PBB prihatinkan tindakan kekerasan tentara Mali

  • 2 Februari 2013
Image caption Tentara mali dituduh melakukan praktek kekejaman terhadap kelompok militan di kawasan utara Mali.

Penasihat khusus PBB anti genosida memprihatinkan laporan perilaku kekerasan tentara Mali saat menguasai kembali kawasan utara negara itu.

Dalam pernyataannya, utusan PBB Adama Dieng menyatakan "sangat terganggu" terhadap laporan-laporan yang menyebutkan adanya pelanggaran sistematis dan meluas yang diduga dilakukan tentara Mali.

Dia menyebut, apabila tindakan seperti itu betul-betul terjadi secara sistematis, maka termasuk kategori "tindakan kejahatan yang kejam".

Laporan-laporan yang diterima Adama Dieng menyebutkan, tentara Mali diduga merekrut dan mempersenjatai kelompok milisi dari kawasan selatan untuk membunuh orang-orang Arab dan etnis Tuareg di kawasan utara.

Disebutkan, tindakan brutal yang dilakukan tentara Mali itu terjadi di kota-kota seperti Sevare, Mopti, Niono, dan kawasan lain yang dilanda pertempuran di kedua pihak.

Dieng menyatakan hal ini menjelang rencana kunjungan Presiden Prancis Francois Hollande ke Mali, yang dijadwalkan tiba di ibukota Mali, Bamako, Sabtu (02/02) ini.

Dalam kunjungan ini, Hollande berencana bertemu Presiden sementara Mali, Dioncounda Traore.

Mahkamah Kejahatan Internasional

Hollande juga diharapkan mengunjungi Timbuktu, sebuah wilayah yang baru saja direbut kembali oleh tentara Prancis dan Mali.

Lebih lanjut, Dieng menyatakan dia menyambut baik keputusan Mahkamah Kejahatan Internasional, ICC, yang berencana menyelidiki praktek kekerasan di Mali.

Awal pekan ini, pimpinan Jaksa penuntut ICC Fatou Bensouda melontarkan peringatan terhadap dugaan praktek kekerasan oleh tentara Mali.

Sementara itu, puluhan pasukan lapis baja Prancis dilaporan terus bergerak menuju kota Timbuktu dan Gao, yang menurut wartawan BBC Mark Doyle yang melaporkan dari Mali, menunjukkan adanya fase baru dalam pertempuran melawan kelompok militan Islam.

Prancis melancarkan operasi militer bulan lalu setelah munculnya kekhawatiran kelompok militan akan memperluas gerakan ke kawasan selatan.

Berita terkait