Prancis pernah bayar tebusan kepada militan

Pemeberontak di Mali
Image caption Kelompok militan Islam diduga menggunakan uang tebusan sandera untuk memperkuat kelompok mereka.

Mantan Dubes AS untuk Mali, Vicki Huddleston mengatakan kepada BBC bahwa pemerintah Prancis pernah membayar uang tebusan untuk membebaskan sandera yang ditahan oleh kelompok militan Islam pada tahun 2010.

Huddleston juga mengatakan uang tebusan itu oleh kelompok militan digunakan untuk memperkuat mereka yang saat ini terlibat dalam pertempuran dengan Prancis di Mali.

Dia mengatakan Prancis membayar tebusan sebesar US$17 juta untuk membebaskan warganya yang dijadikan sandera saat kelompok militan menyerang tambang uranium di Niger pada tahun 2010 lalu.

Dalam catatannya Huddleston juga mengatakan bahwa kebijakan pembayaran uang tebusan untuk membebaskan sandera di Niger tidak hanya dilakukan oleh Prancis tetapi juga oleh negara Eropa lain termasuk, Jerman.

Jerman menurutnya membayar uang tebusan untuk membebaskan para sandera hingga US$90 juta.

Namun pernyataan Vicky ini dibantah oleh pemerintah Prancis yang menegaskan bahwa mereka tidak pernah menerapkan kebijakan tersebut.

Pertempuran berlanjut

Huddleston dalam keterangannya tidak terlalu kaget dengan bantahan dari pemerintah Prancis.

"Semua negara Eropa yang telah membayar tebusan telah menyangkal bahwa mereka telah melakukan itu dan anda tahu mungkin mereka bisa bisa menyangkal hal tersebut karena uang tebusan diberikan secara tidak langsung lewat sejumlah jalur yang ada di tubuh pemerintah Mali," kata Huddleston dalam program Newshour BBC.

Huddleston menyebut salah pejabat Mali yang bertugas sebagai Gubernur di Gao merupakan salah satu negosiator yang melakukan pembicaraan dengan kelompok AQIM atau Al-Qaeda di kawasan Magribi.

Menurutnya cabang kelompok Al-Qaeda di wilayah tersebut tidak akan membebaskan sandera dari negara Barat karena kebaikan hati mereka.

Saat ini pertempuran antara pasukan Mali yang disokong oleh Prancis dengan kelompok militan Islam masih terus terjadi.

Laporan terakhir menyebutkan tentara Prancis yang dibantu juga pasukan dari Chad tengah berupaya mengejar kelompok militan yang melarikan diri ke kawasan pegunungan yang berbatasan dengan Aljazair.

Sebelumnya pada hari Jumat (08/02) pasukan Prancis dikabarkan mampu merebut Tessalit, sebuah kota di kawasan pegunungan tersebut yang juga mempunyai bandara sendiri.

Berita terkait