Puluhan tewas dalam serangan bom di Pakistan

Serangan bom di Quetta, Pakistan.
Image caption Saksi mata mengatakan perempuan dan anak-anak ikut menjadi korban.

Kepolisian Pakistan mengatakan sedikitnya 63 orang tewas akibat serangan bom di kota Quetta, Pakistan barat daya, Sabtu 16 Februari 2013.

Sekitar 180 orang lainnya cedera dalam ledakan di kawasan pemukiman suku Hazara di kota tersebut.

Bomn meledak selepas tengah hari di pasar yang padat dan dekat dengan sebuah sekolah bahasa dan pusat komputer.

Seorang perwira polisi Pakistan, Wazir Khan Nasir, mengatakan, "Komunitas Syiah merupakan sasarannya."

Dia menambahkan ledakan disebabkan bahan peledak yang ditaruh di sepeda motor walau ada laporan lain yang mengatakan bom ditaruh di sebuah becak.

Para saksi mata mengatakan korban jiwa termasuk anak-anak dan perempuan.

Serangan besar kedua

Tak lama setelah serangan, massa yang marah melempari polisi dan sempat mencegah polisi dan petugas penyelamat memasuki lokasi kejadian.

Image caption Keluarga korban sempat menolak pemakaman jenazah dalam serangan bulan Januari.

Serangan ini merupakan serangan besar kedua atas masyarakat Hazara -yang merupakan umat Syiah di Quetta- dalam waktu lima pekan belakangan.

Tanggal 10 Januari serangan bom di kota ini menewaskan 86 orang dan hampir semua korban adalah warga Hazara.

Ketegangan di Quetta beberapa waktu belakangan meningkat dan umat Syiah menuduh pihak berwenang gagal melindungi mereka dari serangan sektarian.

Seorang juru bicara kelompok militan terlarang, Lashkar-e-Jhangvi, mengaku bertangggung jawab atas serangan ini, seperti dikutip kantor berita Reuters.

Mereka juga mengatakan bertanggung jawab dalam serangan pada Januari lalu, yang merupakan salah satu serangan terburuk di Pakistan dalam beberapa tahun terakhir.

Saat itu keluarga korban sempat menunda pemakaman jenazah sebagai aksi protes untuk menuntut jaminan keamanan.

Quetta merupakan ibukota Provinsi Balukistan di dekat perbatasan Iran dan Afghanistan. Kawasan ini dilanda kekerasan yang dipicu oleh konflik sektarian dan gerakan separatis.

Berita terkait