Konflik Mali, puluhan tewas di wilayah utara

  • 23 Februari 2013
Image caption Tentara Chad yang terlibat dalam operasi militer di Mali.

Pertempuran sengit di wilayah utara Mali, menewaskan tiga belas tentara Chad dan sedikitnya 65 anggota kelompok militan Islam, demikian keterangan militer Chad.

Baku tembak terjadi pada Jumat (22/02) di kawasan pegunungan Ifoghas, yang diyakini sebagai lokasi persembunyian kelompok militan

Sejak Januari lalu, Pemerintah Prancis menggelar operasi militer di Mali untuk menghancurkan kelompok militan Islam yang menguasai kawasan utara Mali sejak setahun silam.

Ribuan tentara dari berbagai negara Afrika -- termasuk dari negara Chad -- ikut terlibat dalam operasi militer tersebut.

Kelompok militan Islam diyakini mundur ke pegunungan Ifoghas, sebuah kawasan gurun yang luas di dekat perbatasan dengan Aljazair.

Mereka bergerak mundur dari kawasan utara yang berpenduduk padat menuju kawasan pegunungan terebut setelah terdesak pasukan gabungan, dalam pekan-pekan terakhir.

Sengit

Pernyataan resmi yang dikeluarkan otoritas Angkatan Darat Chad pada Jumat (22/02), menyatakan "mereka mampu menghancurkan lima kendaraan lapis baja dan mewaskan 65 anggota kelompok jihad".

Namun demikian mereka mengaku, sedikitnya 13 orang tentara Chad dan lima lainnya terluka dalam pertempuran yang berlangsung sengit itu.

Awal bulan ini, sekitar 1,800 tentara Chad menggelar patroli di kota Kidal, Mali.

Chad sebelumnya telah berjanji untuk mengirim 2.000 tentara ke Mali sebagai bagian dari pasukan negara-negara Afrika.

Sementara itu, pertempuran antara Tentara Mali yang didukung Tentara Prancis dan kelompok militan Islam berlanjut di pusat kota Gao.

Pesawat pengintai AS

Pada Kamis (21/02), pasukan koalisi berhasil merebut kembali gedung balai kota, yang sebelumnya dikuasai kelompok militan sehari sebelumnya.

Dalam perkembangan lainnya, otoritas militer AS mengatakan telah mengerahkan pesawat pengintai di Nigeria untuk mengumpulkan informasi tentang aktivitas kelompok militan Islam.

Pengintaian ini dilakukan di sepanjang perbatasan Nigeria dan Mali, dengan bekerja sama dengan Tentara Perancis.

Pemerintah Prancis memutuskan untuk mengerahkan pasukan militernya di bekas koloninya pada Januari lalu, menyusul kekhawatiran terhadap kehadiran kelompok al-Qaida yang mengendalikan kawasan utara Mali sejak bulan April 2012 lalu.

Dalam perkembangannya, pemerintah Prancis berencana untuk menarik kembali 4.000 tentaranya pada Maret nanti.

Mereka mengharapkan agar pasukan gabungan negara-negara Afrika nantinya menggantikan posisi mereka dalam payung pasukan perdamaian PBB.

Berita terkait