Operasi 'tahap akhir' Prancis di Mali

Pasukan Prancis di Mali
Image caption Prancis menerjunkan sekitar 4.000 tentara untuk dukung pemerintah Mali lawan militan.

Presiden Prancis Francois Hollande mengatakan pasukan militer negaranya melaksanakan pertempuran 'fase terakhir' melawan militan di bagian utara Mali.

Dia mengatakan telah terjadi pertempuran yang besar di wilayah pengunungan Ifoghas, tempat yang diduga sebagai lokasi persembunyian anggota al-Qaeda yang tergabung dalam Islamic Maghreb (AQIM).

Dalam keterangan pers di Paris, Sabtu (23/2), Presiden Hollande mengatakan 'pertempuran yang keras' terjadi di bagian utara Mali, dekat dengan perbatasan Alzajair.

"Ini merupakan fase terakhir dari proses yang besar ( di pengunungan Ifoghas) dimana kemungkinan pasukan AQIM berkumpul," kata dia.

Hollande memberikan penghargaan terhadap pasukan Chad atas upaya mereka melawan militan di wilayah yang sama.

"Rekan kita dari Chad melakukan serangan kemarin yang menyebabkan banyak orang tewas," tambah Holande. "saya ingin memberikan penghargaan atas tindakan warga Chad."

Tiga belas tentara Chad dan sekitar 65 militan tewas dalam pertempuran Jumat (22/2), menurut keterangan militer Chad.

Pemerintah Chad telah berjanji untuk mengirimkan 2.000 tentara sebagai bagian dari dukungan pemimpin internasional terhadap Mali (Afisma).

Pertempuran terakhir terjadi antara militan Islamis dan suku Tuareg di wilayah In-Khalil area, dekat dengan kota Tessalit.

Sebuah kelompok sekular Tuareg, MNLA, yang ingin memisahkan diri di wilayah Sahara dan Sahel , Mali, Libya, Alzajair, Niger dan Burkina Faso - pernah bersekutu dengan Islamis, ettapi sekarang bergabung dengan pasukan yang dipimpin Prancis.

Prancis menerjunkan sekitar 4.000 tentara sejak 11 Januari lalu, untuk membantu pemerintah Mali melawan militan Islam yang menguasai di bagian utara negara itu sejak tahun la

Berita terkait