Paus Benediktus akui menghadapi 'riak air'

paus benediktus
Image caption Paus Benediktus hanya menggunakan jas putih di misa terakhirnya.

Paus Benediktus XVI mengakui bahwa dia menghadapi ''riak air'' selama delapan tahun menjadi pemimpin tertinggi Gereja Roma Katolik, tetapi mengatakan didampingi oleh Tuhan dan merasakan kehadiran-Nya setiap hari.

Paus, 85, secara resmi pada hari ini Kamis (28/02) mundur - paus pertama yang mundur sejak Gregorius XII di tahun 1415.

Ribuan jemaat berkumpul di Lapangan Santo Petrus di Vatikan untuk menghadiri misa terakhir Paus Benediktus.

Penggantinya akan dipilih dalam sebuah konklaf yang berlangsung Maret.

Paus Benediktus dengan hanya menggunakan jas putih saat menggelar misa terakhir, di hadapan jemaat mengatakan bahwa kepausannya merupakan ''beban berat'' tetapi dia menerimanya karena dia yakin bahwa Tuhan akan membimbingnya.

Kadang-kadang ia "merasa seperti Santo Petrus dengan rasul-Nya di Danau Galilea", katanya, membuat referensi untuk cerita Alkitab ketika para murid sedang berjuang melawan gelombang berat dan Yesus Kristus menampakkan diri kepada mereka.

Gereja Katolik saat ini tengah dilanda skandal pelecehan seksual dan dokumen rahasia yang bocor juga mengungkapkan korupsi dan pertikaian di Vatikan.

'Jiwa tenang'

Paus dalam kesempatan itu mengucapkan terimakasih kepada para jemaat yang menghormati keputusannya untuk berhenti dan mengatakan bahwa dia mundur demi kebaikan Gereja.

"Saya mengambil langkah ini (mundur) dengan penuh kesadaran dan jiwa yang tenang,'' katanya.

Sebuah konklaf - pertemuan tertutup para kardinal gereja Katolik untuk memilih Paus baru - akan segera dimulai dan diperkirakan sudah akan ada Paus baru sebelum perayaan Paskah dimulai 24 Maret.

Wartawan BBC di Roma melaporkan Kamis ini Paus akan menggunakan helikopter pergi ke kediaman musim panasnya di Castel Gandolfo, sekitar 24km tenggara Roma. Dan secara resmi dia akan mundur pukul 20:00 waktu setempat.''

Setelah mundur dia kemudian akan dikenal sebagai ''paus emeritus'' dan akan tetap dipanggil Benediktus XVI, ketimbang kembali ke nama aslinya Joseph Ratzinger.

Dia juga tetap dibolehkan menggunakan jubah putih khasnya, tetapi akan menyerahkan cincin emas paus dan stempel personalnya akan dihancurkan.

Sepatu merahnya juga akan dikembalikan.

Perpisahan

Image caption Setelah mundur, Benediktus akan disebut paus emeritus dan mengembalikan cincin paus.

Paus akan menghabiskan jam-jam terakhir jabatannya di Vatikan dengan mengucapkan perpisahan ke para kardinal yang menjadi pembantu terdekatnya selama menjabat delapan tahun.

Dokumen pribadinya akan dikemas dan pada Kamis pukul 20:00 Garda Swiss yang bertugas di Castel Gandolfo akan dibubarkan, diganti dengan polisi Vatikan.

Ini akan menandai secara resmi pengunduran dirinya dan dimulainya periode transisi untuk penggantinya.

Mulai 4 Maret, pertemuan kardinal akan dimulai diikuti dengan konklaf untuk memilih pengganti Benediktus.

Konklaf akan diikuti oleh 115 kardinal (mereka yang lebih muda dari 80 tahun) melalui sistem pemungutan suara di Kapel Sistine, Vatikan.

Kardinal Julius Darmaatmaja dari Indonesia tidak akan mengikuti prosesi ini karena masalah kesehatan.

"Ada masalah dengan penglihatan. Di konklaf itu para kardinal kan harus membaca naskah-naskah dalam bahasa Latin," kata Dirjen Bimas Katolik Kementerian Agama Semara Duran Antonius pada Pinta Karana dari BBC Indonesia, Rabu (27/2).

Antonius mengakui ketidakikutsertaan Kardinal Julius sangat disayangkan.

"Sayang sekali karena Indonesia tidak akan punya wakil dan kehilangan peluang untuk terpilih tapi beliau memang kurang sehat dan umat harus menyikapinya dengan keimanan," ia menambahkan.

Dua pertiga mayoritas suara dibutuhkan. 67 pemilih ditunjuk langsung oleh Benediktus XVI, dan pendahulunya Paus Paulus II.

Sekitar setengah kardinal pemilih (60) berasal dari Eropa - 21 diantaranya orang Italia - dan banyak yang bekerja di badan administrasi Gereja, Curia, di Roma.

Berita terkait