Dua polisi tewas dalam sengketa 'Sabah-Sulu'

  • 1 Maret 2013
sabah
Malaysia membayar sewa pada sultan setiap tahun

Dua polisi Malaysia tewas dalam bentrokan dengan warga Muslim, anggota klan dari Filipina, yang menduduki satu desa pantai di negara bagian Sabah.

Wartawan BBC Kate McGeown mengatakan insiden ini terjadi ketika aparat keamanan Malaysia mencoba mengusir warga Muslim Filipina, yang mengaku sebagai rakyat Sultan Sulu.

Orang-orang dari Filipina ini, yang tiba di Sabah sekitar tiga pekan silam, mengklaim desa tersebut secara historis sebagai milik mereka.

Malaysia dan Filipina sepakat untuk mengakhiri masalah ini secara damai, tapi pendudukan tersebut menimbulkan ketegangan di antara kedua negara.

Agbimuddin Kiram, adik dari Sultan Sulu Jamalul Kiram III mengatakan pada sebuah stasiun radio Filipina bahwa polisi telah mengepung mereka Jumat pagi dan melepaskan tembakan.

"Mereka di sini, mereka memasuki wilayah kami jadi kami harus membela diri. Ada tembakan," kata dia pada radio DZBB.

"Kami dikepung. Kami akan membela diri," katanya.

Seorang juru bicara duta besar Malaysia untuk Filipina mengatakan ia telah berbicara pada Menteri Luar Negeri Filipina Albert del Rosario mengenai insiden tersebut.

'Bersenjata'

"Pejabat itu mengatakan pada menteri bahwa ada penembakan di Lahad Datu tapi tidak ada korban jiwa dan sudah berhenti," kata Raul Hernandez pada ABS-CBN News Filipina.

Seorang juru bicara Presiden Filipina Benigno Aquino mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa tembakan peringatan dilepaskan ketika anggota grup berusaha melanggar barikade pengamanan.

Tetapi sebuah pesan yang dipublikasikan di halaman Facebook Menteri Dalam Negeri Malaysia Hishammuddin HUssein mengatakan, "Saya memastikan bahwa pasukan keamanan kami tidak melepaskan tembakan satu pun tetapi kami ditembaki pada 10.00 pagi ini!"

Klan tersebut, terdiri lebih dari 100 orang dan 30 orang di antaranya bersenjata, menyebut diri mereka Tentara Kesultanan Sulu dan mengatakan mereka berlayar ke Sabah dengan restu dari sultan.

Desa yang mereka duduki adalah bagian dari Kesultanan Sulu, yang dulu tersebar hingga ke sejumlah pulau di selatan Filipina dan Kalimantan sebelum dinyatakan sebagai kekuasaan Inggris di era 1800-an.

Sabah menjadi bagian Malaysia pada 1963 dan negara itu diberitakan masih membayar sewa ke Kesultanan Sulu setiap tahun.

Berita terkait