Penggunaan bom curah semakin meluas di Suriah

Konflik Suriah
Image caption PBB memperkirakan korban jiwa akibat konflik Suriah sudah mencapai 70.000 orang.

Organisasi hak asasi, Human Right Watch, mengatakan aparat keamanan pemerintah Suriah memperluas penggunaan bom curah.

Menurut HRW, bom curah digunakan di sekitar 100 higgga 120 lokasi di Suriah dalam waktu enam bulan belakangan, dari Agustus 2012 hingga pertengahan Februari 2013.

“Suriah memperluas tanpa rasa iba penggunaan bom curah yang merupakan senjata terlarang dan para penduduk sipil menjadi korbannya dengan kehilangan nyawa maupun kaki," tutur Steve Goose dalam pernyatannya.

Dalam waktu dua pekan belakangan, HRW menyelidiki duas serangan bom curah di Deir Jalam dekat Aleppo dan Talbiseh dekat Homs.

Kedua bom itu menewaskan 11 penduduk sipil, termasuk dua perempuan serta dan lima anak-anak, dengan 27 korban cedera.

Ditambahkan bahwa tidak ditemukan bukti-bukti kalau pasukan pemberontak menggunakan bom curah.

Sejumlah negara sudah melarang penggunaan bom curah, yang jika meledak akan mengeluarkan bom-bom kecil yang tidak selalu langsung meledak hingga berbahaya bagi penduduk sipil.

Senjata untuk pemberontak

Image caption Pemerintah Suriah menganggap kelompok perlawanan sebagai teroris bersenjata.

Dalam perkembangan lain, Presiden Prancis, Francois Hollande, mempertahankan keputusan untuk memasok senjata kepada kelompok pemberontak Suriah.

Hak itu diungkapkannya usai pertamuan Uni Eropa dan dia menegaskan kelompok pemberontak menjamin senjata-senjata itu tidak akan jatuh ke tangan yang salah.

Status kelompok pemberontak Suriah merupakan isu yang masih diperdebatkan dengan sengit di kalangan Uni Eropa maupun di negara-negara lain.

Rusia secara terbuka masih mengungkapkan dukungannya kepada pemerintahan Presiden Bashar al-Assad dan menentang upaya mempersenjatai kelompok pemberontak.

Pemerintah Suriah menyebut upaya perlawanan dilakukan oleh kelompok teroris bersenjata.

Sejak aksi perlawanan pemerintah marak dua tahun lalu, PBB memperkirakan korban jiwa sudah mencapai 70.000 jiwa dan sebagian besar adalah warga sipil.

Berita terkait