Mantan presiden Prancis diselidiki

  • 22 Maret 2013
sarkozy
Image caption Sarkozy diduga memanfaatkan kekayaan Bettencourt untuk dana kampanye.

Mantan Presiden Prancis Nicolas Sarkozy secara resmi diselidiki terkait kasus donasi ilegal saat kampanye 2007.

Dia diduga menerima ribuan euro dari perempuan terkaya Prancis, pewaris bisnis kosmetik L'Oreal, Liliane Bettencourt.

Sarkozy membantah tuduhan dirinya mengambil untung dari nyonya Bettencourt yang kini berusia 90 tahun.

Kuasa hukumnya mengatakan Sarkozy akan mengajukan banding atas ''keputusan yang membingungkan dan tidak adil,'' seperti yang diberitakan AFP.

Hakim Jean-Michel Gentil, yang memimpin penyelidikan, secara tidak diduga memanggil Sarkozy berhadapan langsung dengan pelayan pribadi Bettencourt, Pascal Bonnefoy, di kota Bordeaux.

Hakim ingin mengetahui seberapa sering politisi ini bertemu dengan Bettencourt di tahun 2007.

Meski Sarkozy mengatakan bahwa dia hanya bertemu dengan Bettencourt satu kali di tahun tersebut, tetapi pelayannya memberikan pernyataan yang berbeda.

Setelah sidang pendahuluan tersebut, jaksa kemudian mengatakan bahwa mantan presiden tersebut kini resmi diselidiki ''karena mengambil keuntungan dari orang yang rentan selama tahun 2007 sampai merugikan Liliane Bettencourt".

Para penyelidik kemudian akan menjalani sejumlah pemeriksaan sebelum memutuskan apakah dia akan diajukan ke pengadilan atau tidak.

Sumbangan kampanye

Image caption Liliane Bettencourt berteman dengan Nicolas Sarkozy sejak awal tahun 1980-an.

Mantan presiden Sarkozy sebelumnya mengungkapkan bahwa dia mempertimbangkan untuk kembali maju dalam pemilihan presiden 2017.

Tetapi hasil dari penyelidikan ini akan menentukan apakah dia bisa kembali ke politik, demikian pernyataan sejumlah pengamat.

Polisi memeriksa rumah dan kantor Sarkozy Juli silam setelah dia kehilangan imunitas kepresidenan.

Dia sebelumnya dijadikan tersangka pada November lalu tetapi belum secara resmi didakwa.

Sarkozy pertama kali bertemu Bettencourt saat dia mejabat walikota di pinggir kota Paris dan kemudian keduanya menjalani pertemanan.

Dia beberapa kali mengunjungi rumah keluarga Bettencourt, kata pelayannya.

Diduga seorang karyawan Bettencourt memberikan uang tunai sebesar 150.000 euro atau sekitar Rp1,8 miliar ke asisten Sarkozy saat kampanye 2007 yang berhasil dia menangkan.

Sumbangan ini dinilai ilegal karena batasan donasi kampanye di Prancis adalah 4.600 euro atau sekitar Rp57,7juta.

Mantan akuntan Bettencourt, Claire Thibout, menuduh bendahara kampanye Sarkozy saat itu - Eric Woerth, yang kemudian menjadi menteri anggaran - mengumpulkan uang tunai secara pribadi.

Dalam wawancara dengan polisi yang bocor, dia juga mengungkap bahwa Sarkozy, saat menjadi walikota Neuilly dari tahun 1983 sampai 2002, secara 'rutin' berkunjung ke rumah Bettencourt.

Tetapi Sarkozy membantah kabar yang menyebut dia menerima amplop berisi uang tunai.

"Bettencourt tidak pernah memberikan saya sedikit uang pun dan saya tidak pernah memintanya,'' kata Sarkozy dikutip dari koran Sud-Ouest.

Eric Woerth sendiri dipaksa mundur dari jabatan bendahara partai UMP Juli silam menyusul skandal ini, dan juga telah secara resmi diselidiki terkait tuduhan ini.

Woerth juga membantah tuduhan ini.

Berita terkait