AS kecilkan ancaman Korut

  • 6 April 2013
Image caption Tentara Korut mengawasi aktivitas di perbatasan negaranya dengan Korsel.

Para pejabat AS mengecilkan ancaman perang di semenanjung Korea yang dilontarkan Pyongyang dalam beberapa pekan terakhir.

Juru bicara Gedung Putih menyatakan AS "tidak terkejut" apabila Korut meluncurkan rudalnya, sementara pejabat militer AS mengatakan ancaman itu merupakan pola yang biasa dilakukan negara Komunis itu.

Dalam keterangan kepada pers, Juru bicara Gedung Putih Jay Carney mengatakan: "Kami tidak terkejut melihat mereka melakukan tindakan seperti itu... Mereka pernah melakukannya sebelumnya."

Di tempat terpisah, Jenderal Martin Dempsey, Panglima Militer AS , menyebut ancaman serangan nuklir Korut sebagai pernyataan "sembrono", walaupun ini bukanlah ancaman perang yang pertama dilontarkan Pyongyang, seperti dilaporkan Kantor berita Reuters.

Meskipun demikian, Dempsey mengatakan, sikap Korut tetap sulit diprediksi karena tidak banyak yang tahu tentang sosok pemimpin Korut Kim Jong-un, yang berkuasa semenjak kematian ayahnya, pada Desember 2011.

Rudal jarak menengah

Korut sejauh ini telah mengancam akan menyerang sasaran strategis AS dan Korsel.

Rezim negara Komunis itu juga telah meminta agar kedutaan negara-negara asing mengevakuasi para stafnya sebelum 10 April nanti, karena mereka tidak bisa menjamin keselamatannya jika perang benar-benar terjadi.

Rusia, yang mengaku telah menjalin kontak dengan Pyongyang, mengatakan, pihaknya terus mencoba mengklarifikasi pernyataan Korut tentang permintaan evakuasi para diplomat tersebut.

Media terbitan Korsel melaporkan pada Jumat (05/04) bahwa Korut telah memindahkan rudal-rudal jarak menengahnya yang ditempatkan di pantai timur negeri itu.

Rudal-rudal yang belum teruji itu diyakini mampu mencapai pangkalan militer AS di Guam, di perairan Lautan Pasifik, sehingga membuat AS mempersiapkan sistem pertahanan rudalnya.

Kantor berita Korea Selatan, Yonhap, melaporkan, negara itu telah menyiapkan dua kapal perang yang memiliki sistem pertahanan Aegis untuk memantau situasi.

Berita terkait