Pemilik pabrik garmen di Bangladesh ditahan

  • 27 April 2013
bangladesh
Image caption Hingga saat ini diperkirakan masih ada ratusan orang yang tertimbun reruntuhan bangunan.

Dua orang pemilik pabrik garmen di Bangladesh dilaporkan telah menyerahkan diri ke kepolisian terkait ambruknya bangunan di pinggir kota Dhaka.

Mahbubur Rahman Tapas dan Balzul Samad Adnan menjadi tersangka karena memaksa pekerja mereka untuk bekerja di dalam bangunan, menghiraukan peringatan tentang keretakan parah yang terdapat di dalam gedung.

Sedikitnya 233 orang tewas setelah bangunan delapan tingkat Plaza Rana ambruk di pinggur kota Savar, Dhaka Rabu lalu.

Hingga Sabtu ini proses pencarian korban masih berlanjut dan 24 orang lagi berhasil diselamatkan dari reruntuhan bangunan.

Tim penyelamat yang bekerja sepanjang malam langsung berteriak senang saat mereka berhasil menemukan korban selamat.

Sebelumnya, tim penyelamat mengatakan mereka berhasil menemukan sekitar 40 orang yang selamat meski terperangkap reruntuhan bangunan di lantai tiga.

Tim penyelamat juga memberikan tabung oksigen dan air untuk mereka yang masih terperangkap dalam reruntuhan.

Meski sekitar 2.200 orang berhasil diselamatkan tetapi ratusan lainnya masih dinyatakan hilang.

Aksi kekerasan

Tapas dan Adnan, adalah pemilik pabrik New Wave Buttons dan New Wave Style dilaporkan menyerahkan diri ke kepolisian pada Sabtu (27/04) pagi.

Wakil kepala kepolisian Dhaka Shyami Mukherjee mengatakan dua orang itu disangkakan dengan tuduhan menyebabkan ''kematian akibat kelalaian'', demikian laporan kantor berita AFP.

Mereka dilaporkan meminta para pekerha untuk kembali bekerja pada Rabu lalu, meski retakan terlihat sehari sebelum bangunan rubuh.

Tiga pabrik lainnya dilaporkan beroperasi di bangunan yang rubuh tersebut.

Sementara pemilik gedung Plaza Rana hingga saat ini masih belum diketahui keberadaannya.

"Mereka yang terlibat, terutama pemilik yang memaksa buruh untuk bekerja di sana, akan dihukum,'' kaya Perdana Menteri Bangladesh Sheikh Hasina.

"Dimanapun dia berada, dia akan ditemukan dan dibawa ke pengadilan,'' tambahnya.

Jumat (26/04) kemarin, sedikitnya 10.000 orang melakukan aksi protes untuk menangkap pemilik gedung dan mendesak pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan para pekerja garmen.

Aksi ini berakhir ricuh dan polisi menggunakan gas air mata dan peluru karet untuk membubarkan massa yang memblokir jalan, membakar bus dan menyerang sejumlah pabrik tekstil.

Bangladesh merupakan salah satu yang terbesar dalam industri garmen di dunia, dengan memproduksi pakaian murah bagi penjual besar Barat yang memanfaatkan ongkos murah dalam penggajian buruh.

Berita terkait