Korban gedung ambruk Bangladesh mencapai 900 jiwa

  • 10 Mei 2013
Bangladesh
Ambruknya Rana Plaza yang menewaskan sedikitnya 900 orang memicu kemarahan umum.

Sedikitnya 912 orang tewas akibat gedung yang ambruk bulan lalu di pinggiran ibukota Bangladesh, Dhaka.

Petugas penyelamat mengatakan mereka berhasil menemukan 84 jenazah lagi di balik puing-puing pada Kamis (09/05).

Jumlah korban jiwa di reruntuhan Rana Plaza, yang ambruk pada 24 April lalu, meningkat pesat beberapa hari belakangan dengan semakin banyaknya ditemukan jenazah.

Sebagian besar korban adalah buruh dari pabrik-pabrik garmen yang berlokasi di gedung bertingkat delapan tersebut.

Ambruknya Rana Plaza memicu kemarahan umum karena diduga pekerja pabrik dipaksa untuk tetap masuk ke dalam gedung walau sehari sebelum ambruk ditemukan retakan besar di gedung.

Pihak berwenang mengatakan sekitar 2.500 cedera sementara 2.437 lainnya berhasil diselamatkan.

Ruang bawah tanah

Rencananya proses pencarian jenazah akan dihentikan hari ini, Jumat 10 Mei, sebelum alat-alat berat membersihkan puing-puingnya.

"Kami tinggal mencari di ruang bawah tanah. Sebagian besar jenazah saat ini sudah seperti kerangka karena kondisinya sudah amat buruk," tutur Brigadir Jenderal Alam Sikder yang memimpin upaya pencarian korban kepada kantor berita AFP.

Beberapa jenazah yang berada dalam kondisi buruk masih bisa diidentifikasi berdasarkan telepon genggam di kantong mereka maupun kartu karyawan yang masih menggantung di leher.

Bagaimanapun tetap dilakukan uji coba DNA untuk memastikan identitas korban guna keperluan pembayaran ganti rugi.

Sejumlah orang, termasuk pemilik Rana Plaza, sudah ditangkap dan didakwa dengan kelalaian yang mengakibatkan kematian. Di Rana Plaza terdapat sejumlah pabrik garmen yang memasok produk untuk jaringan pertokoan di Eropa dan Amerikat Serikat.

Dalam kecelakaan lain, Kamis, sebuah pabrik pakaian di Dhaka terbakar dan menewaskan sedikitnya delapan orang, termasuk pemilik pabrik dan seorang polisi.

Penyebab kebakaran di pabrik milik eksportir garmen Tung Hai Group itu masih belum diketahui.

Berita terkait