Pemilu Pakistan dijaga ekstra ketat

Image caption Warga Pakistan antri untuk memberikan suaranya pada pemilu tingkat nasional dan propinsi.

Warga Pakistan mulai mendatangi tempat pencoblosan dalam pemilihan umum tingkat nasional dan daerah di tengah pengamanan ekstra ketat, Sabtu (11/05) waktu setempat.

Pemungutan suara ini dianggap penting karena digelar untuk pertama kalinya oleh pemerintahan sipil dalam sejarah 66 tahun berdirinya negara Pakistan.

Namun demikian, pemilu ini telah dinodai aksi kekerasan yang telah menewaskan sedikitnya 100 orang, belakangan ini.

Hari ini, puluhan ribu tentara dikerahkan di tempat pemungutan suara, TPS, setelah kelompok Taliban Pakistan mengancam akan melakukan serangan bunuh diri.

Beberapa jam sebelum TPS dibuka, Pakistan menutup perbatasan dengan Iran dan Afghanistan dalam upaya untuk menjaga serangan kelompok militan.

Para pejabat mengatakan, perbatasan akan tetap ditutup sampai tiga hari berikutnya.

TPS telah dibuka pada pukul 08:00 dan akan ditutup pada pukul 17:00 waktu setempat.

Aksi penculikan

Hari Jumat, Taliban telah melontarkan ancaman agar para calon pemilih memboikot pemungutan suara untuk menghindari aksi serangan terhadap kantor-kantor partai politik.

Kelompok militan dituduh terhadap sejumlah aksi serangan bersenjata terhadap para politisi dari tiga partai liberal selama masa kampanye.

Akibatnya, mereka harus membatasi kampanye di hadapan pendukungnya.

Dalam pemilu sebelumnya, beredar tuduhan tentang adanya kecurangan berupa penambahan suara ilegal yang jumlahnya mencapai jutaan suara.

Namun, Komisi Hak Asasi Manusia Pakistan pada Jumat kemarin lebih memprihatinkan aksi-aksi kekerasan belakangan yang menganggu proses pemilu yang adil.

Sebelumnya, putra mantan Perdana Menteri Pakistan Yousuf Raza Gilani, Ali Haider Gilani, diculik orang-orang bersenjata ketika berkampanye pada Kamis (09/05).

Serangan bersenjata juga telah menewaskan 14 orang saat kampanye pemilu digelar di barat Pakistan.

Berita terkait