Sejumlah pabrik tekstil Bangladesh tutup

factory
Image caption Bencana sudah menjadi epidemi bagi buruh garmen di Bangladesh.

Banyak pabrik tekstil yang terletak di dekat ibukota Dhaka, Bangladesh, ditutup menyusul kerusuhan yang dipicu oleh runtuhnya bangunan pabrik bulan lalu,.

Asosiasi pengusaha tekstil negara itu mengatakan pemilik pabrik membuat keputusan ini dengan alasan keamanan setelah banyaknya pekerja yang mengamuk.

Sebanyak 1.127 mayat ditemukan di balik puing-puing bangunan Rana Plaza yang ambruk dua pekan lalu.

Salah seorang sumber mengatakan bahwa sekitar 300 pabrik telah ditutup di kawasan industri Ashulia di dekat ibukota Dhaka.

"Pemilik memutuskan untuk menutup pabrik-pabrik mereka dengan alasan keamanan karena para pekerja mengamuk hampir setiap hari setelah runtuhnya Rana Plaza," kata Mohammad Atiqul Islam, Presiden Asosiasi Produsen dan Eksportir Garmen Bangladesh.

Para pekerja di sekitar 80% dari pabrik di Ashulia mogok dan menuntut kenaikan gaji, serta penghukuman pemilik Rana Plaza.

Serika pekerja

Polisi mengatakan ketegangan diperparah lagi dengan ditemukannya jenazah seorang pekerja perempuan di Ashulia, Minggu (12/05).

Ribuan pekerja turun ke jalan dan merusak kendaraan dan toko-toko sebelum dibubarkan oleh polisi, kata seorang polisi kepada kantor berita Associated Press.

Pemerintah pada Senin 13 Mei sudah setuju untuk mengizinkan pekerja garmen membentuk serikat buruh tanpa izin dari pemilik pabrik. Pemerintah juga mengubah Undang-Undang Ketenagakerjaan Tahun 2006 dan menghapus pembatasan pembentukan serikat pekerja di sebagian besar industri. juru bicara Mosharraf Hossain Bhuiyan.

"Pemerintah melakukan ini untuk kesejahteraan para pekerja," kata seorang juru bicara pemerintah, Mosharraf Hossain Bhuiyan kepada para wartawan.

Sehari sebelumnya setelah pemerintah membentuk sebuah panel untuk menaikkan upah minimum bagi para pekerja garmen.

Sementara itu para pejabat setempat mengatakan operasi penyelamatan hampir berakhir.

"Kemungkinan menemukan lagi korban lain sangat kecil," kata Brigadir Jenderal Mohammad Siddiqul Alam Shikder.

Rana Plaza di Savar, pinggiran Dhaka, merupakan tempat dari beberapa pabrik garmen yang memasok produk ke jaringan pengecer di Eropa dan Amerika.

Perundingan keselamatan

Bangladesh adalah salah satu negara dengan industri garmen terbesar di dunia.

Rabu pekan lalu, sebanyak 18 pabrik garmen ditutup dengan alasan kondisi keamanan di tengah meningkatnya kekhawatiran akan keselamatan industri di negara itu.

Empat jaringan pengecer besar di negara-negara Barat, antara lain H&M, C&A, Primark, sudah mengatakan akan mendukung kesepakatan organisasi buruh internasional, ILO, mengenai keselamatan kondisi kerja yang sedang dirundingkan sejak ambruknya Rana Plaza pada 24 April lalu.

Kontrak tersebut akan mewajibkan mereka untuk melakukan inspeksi keselamatan, membayar perbaikan-perbaikan, dan berhenti berbisnis dengan pabrik yang tidak melakukan perbaikan keselamatan yang diperlukan.

"Kesepakatan ini sesungguhnya adalah hal yang dibutuhkan oleh pekerja untuk mengakhiri epidemi kebakaran dan bencana yang telah memakan banyak korban di industri garmen di Bangladesh,'' kata Direktur Eksekutif Hak Konsorsium Pekerja, Scott Nova.

Berita terkait