Kritik terbuka atas Presiden Cina Xi Jinping

  • 31 Mei 2013
Peristiwa Tiananmen
Image caption Ratusan orang dilaporkan tewas dalam Peristiwa Tiananmen 1998 walau masih diperdebatkan.

Para keluarga korban pembunuhan Lapangan Tiananmen 1989 menyampaikan kritik terbuka terhadap Presiden Xi Jinping karena dianggap gagal menempuh reformasi politik.

Surat terbuka yang ditulis oleh kelompok yang menamakan diri sebagai Ibu Tiananmen ini muncul beberapa hari menjelang peringatan pemberangusan unjuk rasa Lapangan Tiananmen tanggal 4 Juni.

Mereka menuduh Presiden Xi menempuh langkah mundur yang besar ke arah ortodoksi Maoisme.

Xi Jinping ditunjuk sebagai pemimpin Partai Komunis Cina pada November 2012 dan menjadi presiden pada Maret 2013 untuk menggantikan Hu Jintao.

Kelompok Ibu Tiananmen terdiri dari para keluarga korban yang tewas ketika tentara dikerahkan untuk membubarkan para mahasiswa yang melakukan unjuk rasa prodemokrasi di Beijing.

Mereka sejak lama menuntut agar kepemimpinan Cina mengaku kekerasan tersebut yang dilaporkan menewaskan ratusan orang walau jumlah korban jiwa itu masih diperdebatkan.

Menjadi kecewa

Dalam suratnya, mereka menyebut Xi Jinping tidak pernah secara terbuka mengungkapkan 'dosa' dari para pemimpin masa lalu atau meminta pertanggung jawaban dari orang tertentu.

Sebaliknya, seperti tertulis dalam surat terbuka, dia telah mencampurkan 'hal-hal yang paling tidak populer dengan yang paling perlu disangkal' di bawah kepempimpinan Mao Tse Tung dan Deng Xiaoping.

"Hal ini telah menyebabkan orang-orang yang awalnya menaruh harapan padanya untuk menempuh reformasi politik tiba-tiba terjatuh ke dalam kekecewaaan dan putus asa," seperti tertulis dalam surat tersebut.

Sejak berkuasa, Presiden Xi melancarkan kampanye besar-besaran melawan para pejabat yang korupsi namun pemerintahannya tampaknya meningkatkan sensor atas internet dan menutup akun sosial medoa dari para pembangkang politik yang berpengaruh.

Surat terbuka Ibu Tiananmen ini muncul bersamaan dengan keberangkatan Xi Jinping ke Amerika Latin dan Karibia yang akan berakhir dengan pertemuan puncak dengan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama.

Masalah hak asasi manusia diperkirakan akan menjadi salah satu agenda dalam pertempuan Presiden Xi dan Obama pada tanggal 7 dan 8 Juni di California.

Selain itu kedua pemimpin juga akan membahas masalah keamanan di Korea Utara, Suriah, Laut CIna Selatan serta spionase internet, yang menghangat belakangan ini, maupun sengketa perdagangan.

Berita terkait