Pengerahan tentara mungkin ditempuh Turki

Polisi Turki
Image caption Laporan menyebutkan unit militer sudah dikerahkan di Istanbul.

Pemerintah Turki mengatakan mungkin akan mengerahkan tentara untuk mengakhiri unjuk rasa di Istanbul dan beberapa kota lainnya.

Wakil Perdana Menteri Bulent Arinc mengatakan polisi akan menggunakan kekuatan dalam membubarkan unjuk rasa yang berlangsung tiga pekan belakangan.

"Jika itu tidak cukup, kita bisa menggunakan angkatan bersenjata Turki di berbagai kota," tuturnya.

Kepada stasiun TV milik pemerintah, Arinc mengatakan bahwa unjuk rasa "murni" yang berawal 20 hari lalu sudah berakhir sepenuhnya.

Oleh karena itu, tambahnya, jika masih berlangsung unjuk rasa maka akan dibubarkan dengan segera.

Sepanjang unjuk rasa yang melanda negara itu, untuk pertama kalinya partai berkuasa yang beraliran Islami mengangkat kemungkinan pengerahan tentara.

Isu tersebut tergolong peka karena angkatan bersenjata Turki dianggap sebagai benteng pertahanan sekulerisme, yang menurut sejumlah pihak di Turki sedang terkikis di bawah kekuasan Partai Keadilan dan Pembangunan atau Partai AK.

Pengerahan unit militer

Sementara itu dua serikat buruh utama di Turki menyerukan mogok nasional selama sehari untuk memprotes langkah polisi meredam demonstrasi antipemerintah dan menyerukan dihentikannya kekerasan polisi.

Hari Minggu (16/06), polisi menggunakan meriam air dan gas air mata untuk membubarkan demonstran penentang pemerintah di Lapangan Kizilay, Ankara.

Pada saat yang bersamaan Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan mengatakan kepada ratusan ribu pendukungnya -yang melakukan aksi tandingan- bahwa para pengunjuk rasa antipemerintah dimanipulasi oleh "teroris".

Di Istanbul, pada akhir pekan, muncul laporan bahwa unit militer yang dalam keadaan damai berada di bawah Kementerian Dalam Negeri, sudah dikerahkan.

Menteri Dalam Negeri, Muammer Guler, sudah menegaskan bahwa dia tidak menginstruksikan pengerahan unit militer untuk membantu polisi namun menambahkan bahwa pengerahan unit militer itu sebagai hal yang "cukup biasa".

Selama unjuk rasa tiga minggu, sekitar 5.000 orang cedera dan sedikitnya empat terluka.

Demonstrasi berawal dari sekelompok pegiat lingkungan yang menentang pembangunan Taman Gezi, namun kemudian meluas ke beberapa kota lain serta menjadi aksi menentang pemerintah setelah aparat keamanan melakukan kekerasan terhadap pengunjuk rasa.

Berita terkait