Protes di Mesir berujung kekerasan

mesir
Image caption Lapangan Tahrir di Kairo, Mesir menjadi pusat gerakan massa.

Aksi unjuk rasa di seluruh Mesir yang menuntut mundurnya Presiden Muhammed Morsi telah berlangsung sepanjang malam dengan pecahnya sejumlah aksi kekerasan.

Di ibukota Kairo, puluhan ribu orang turun berunjuk rasa di Lapangan Tahrir dan di luar istana presiden. Mereka bersumpah akan tetap tinggal di tempat hingga Morsi mundur.

Demonstrasi umumnya berlangsung damai, tetapi sebagian pengunjuk rasa melempar batu dan bom api ke markas partai penguasa, yakni Ikhwanul Muslimin.

Puluhan pemuda, menurut kantor berita AP, menyerang markas Ikhwanul Muslimin pada Minggu(30/06) malam.

Selama bentrokan, pendukung Ikhwanul juga melepaskan tembakan.

Setidaknya satu orang dilaporkan tewas dalam baku tembak dekat markas tersebut. Sementara empat orang juga dilaporkan tewas dalam bentrokan lain.

Jutaan pengunjuk rasa yang tersebar di seluruh wilayah Mesir menuduh presiden Islamis pertama ini gagal mengatasi masalah ekonomi dan keamanan sejak menduduki puncak kekuasaan tahun lalu.

Terbesar

Peristiwa ini menjadi demonstrasi terbesar di Mesir sejak revolusi 2011 yang memaksa Presiden Hosni Mubarak mundur dari jabatannya.

Sementara itu, ribuan pendukung Morsi melakukan unjuk rasa tandingan di pinggir kota Kairo, Nasr City.

Salah seorang juru bicara presiden kemudian mendesak para pengunjuk rasa untuk menghormati proses demokrasi, yang mengacu pada kemenangan Morsi dalam pemilu tahun lalu yang secara luas dinilai sebagai pemilu yang bebas dan adil.

Satu prestasi yang pasti dari kelompok oposisi Morsi adalah bagaimana mereka bisa membuat orang sebanyak itu untuk turun ke jalan, demikian dilaporkan Editor BBC di Timur Tengah, Jeremy Bowen.

Namun pertanyaannya sekarang adalah bagaimana pihak oposisi bisa meracang strategi politik yang dapat menandingi organisasi Ikhwanul Muslimin, katanya.

Pertanyaan besar lainnya, ia menambahkan, adalah apa yang akan dilakukan tentara. Menteri pertahanan telah memperingatkan bahwa militer akan melakukan intervensi jika Mesir menjadi tidak terkendali.

Berita terkait