Australia selamatkan 'manusia perahu'

  • 13 Juli 2013
Upaya penyelamatan korban kapal pencari suaka di perairan Australia.

Pemerintah Australia menyatakan telah menyelamatkan 88 orang pendatang ilegal dari Iran, Afganistan dan Srilanka, ketika kapal yang ditumpanginya tenggelam di dekat perairan Pulau Christmas, Australia, Sabtu (13/07).

Menteri Dalam Negeri Australia, Jason Clare mengatakan, awak kapal sempat meminta pertolongan pada Jumat (12/07) pagi, ketika mereka terombang-ambing badai di utara perairan Pulau Christmas, di antara wilayah Australia dan Indonesia, seperti dilaporkan kantor berita AFP.

Menurutnya, tim penyelamat tidak mampu mencapai lokasi kejadian sampai sekitar puku 10:00 Waktu Australia, dan beberapa waktu kemudian kapal itu tenggelam akibat gempuran gelombang besar.

"Tadi malam (Jumat malam) petugas kami telah menyelamatkan 88 orang. Mereka juga menemukan jasad bayi laki-laki," kepada Clare kepada wartawan Clare.

Saat ini, lanjutnya, tim penyelamat berupaya menemukan penumpang kapal yang masih dinyatakan hilang, dengan melibatkan empat pesawat terbang.

Dari keterangan para korban yang selamat, ada 97 orang yang menumpang kapal tersebut.

Berangkat dari Indonesia?

Clare menduga, kapal naas itu berangkat dari Indonesia, dengan ditumpangi pendatang gelap dari Iran, Afghanistan dan Sri Lanka.

Sejumlah laporan menyebutkan, ratusan orang pencari suaka tenggelam bersama kapalnya dalam pelayaran berbahaya dari Indonesia ke Australia.

Lebih dari 13.000 orang pencari suaka tiba di Australia dengan kapal kayu sejak 1 Januari 2013 lalu.

Persoalan 'manusia perahu' menjadi isu penting saat Perdana Menteri Australia Kevin Rudd bertemu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Kepresidenan Bogor, Jumat (05/07) lalu.

Dalam pertemuan itu, Indonesia dan Australia sepakat untuk meningkatkan kerja sama untuk menanggulangi persoalan manusia perahu.

Mereka juga bersepakat untuk menggelar pertemuan tingkat menteri yang melibatkan negara asal imigran gelap, seperti Afghanistan, Irak, Iran serta Myanmar.

Berita terkait