Oposisi Kamboja tolak hasil pemilu

kamboja
Image caption Oposisi dan pemerhati HAM memperingatkan pemilu itu tidak bebas atau adil

Oposisi Kamboja menolak hasil pemilu yang berlangsung Minggu (28/07), dan menyebut ada "pelanggaran serius."

Nama-nama menghilang dari daftar pemilu dan sejumlah pemilih menemukan kertas suara mereka telah dipakai, demikian kata sejumlah laporan.

Hasil sementara menunjukkan partai berkuasa pimpinan Perdana Menteri Hun Sen memenangi 68 kursi dan oposisi 55.

Namun oposisi Kamboja telah meraih hasil yang terbilang baik dan mengurangi mayoritas partai berkuasa secara signifikan.

"Partai Penyelamat Nasional Kamboja (CNRP) tidak bisa menerima hasil pemilu parlemen kelima...karena CNRP telah menemukan banyak pelanggaran serius," kata partai oposisi dalam sebuah pernyataan hari Senin.

Tak ada kesetaraan

Image caption Kembalinya Sam Rainsy, kiri, adalah tantangan bagi partai Hun Sen

Mereka menyerukan pembentukan komite gabungan dengan anggota kedua partai, PBB dan Komite Pemilu Nasional untuk menyelidiki pelanggaran tersebut.

Pada Minggu (28/07), sejumlah pemilih mengatakan kepada BBC mereka tidak menemukan nama mereka di daftar pemilih dan bahwa tinta yang digunakan untuk menandai jika seseorang telah memilih ternyata mudah terhapus.

Kol Preap, direktur eksekutif Transparency International Cambodia, mengatakan pada kantor berita AFP bahwa "sangat sulit untuk mendeklarasikan bahwa pemilu ini bebas dan adil."

"Saya pikir tidak ada kesetaraan untuk semua dalam pemilu ini. Tidak ada akses yang sama untuk media dan pemimpin oposisi tidak diizinkan menjadi calon legislatif," tambahnya.

Tetapi, Komite Pemilu Kamboja mengatakan tidak ada pelanggaran pemilu.

Hun Sen telah berkuasa selama tiga dekade di Kamboja, dan CPP diperkirakan akan memenangi pemilu.

Jika hasil sementara ini diresmikan, maka ini adalah performa terburuk CPP dalam 15 tahun.

Berita terkait