Korban senjata kimia Suriah simpang siur

syria chemical
Image caption Belum jelas apakah PBB juga akan menyelidiki dugaan penggunaan senjata kimia ini.

Korban serangan senjata kimia yang diduga dilakukan tentara pemerintah Suriah yang diluncurkan Rabu (21/08) kemarin diklaim terus bertambah.

Aktivis dari pihak oposisi mengatakan senjata kimia itu menewaskan ratusan orang di sekitar kota Damaskus.

Roket yang mengandung racun itu diluncurkan di kawasan Ghouta, Rabu pagi sebagai bagian dari serangkaian pengeboman untuk memukul pasukan perlawanan, kata para aktivis.

Sementara tentara Suriah mengatakan klaim ini dibuat-buat untuk menutupi kekalahan kubu lawan.

Jaringan aktivis oposisi melaporkan korban tewas akibat insiden ini mencapai ratusan, tetapi kebenarannya belum bisa dibuktikan secara independen.

Simpang siur

Dewan Keamanan PBB mengatakan perlu adanya kejelasan mengenai serangan itu, namun mereka tidak menuntut dilakukan investigasi oleh tim PBB yang saat ini ada di sana menyusul diadakannya rapat darurat pada Rabu kemarin.

"Ada kekhawatiran besar di antara anggota dewan tentang tuduhan ini dan pemahaman umum bahwa harus ada kejelasan tentang apa yang terjadi, dan situasi ini harus diikuti dengan seksama," kata Duta Besar PBB dari Argentina, Maria Cristina Perceval, kepada wartawan setelah pertemuan tertutup itu.

Amerika Serikat, Inggris dan Perancis termasuk di antara sekitar 35 negara anggota yang sebelumnya menandatangani surat yang menyerukan para inspektur PBB untuk menyelidiki tiga lokasi senjata kimia.

Hingga saat ini, masih tidak jelas berapa banyak yang meninggal akibat pemboman dan berapa banyak kematian disebabkan paparan zat beracun.

Sebuah rekaman video menunjukkan puluhan mayat termasuk anak-anak kecil tanpa terlihat tanda-tanda luka dibaringkan di lantai sebuah klinik.

Ghazwan Bwidany, seorang dokter merawat yang korban luka-luka, mengatakan kepada BBC gejala utama terpapar racun ini terutama di kalangan anak-anak adalah sesak napas, keluarnya air liur dan penglihatan yang kabur.

"Kami tidak mampu mengobati semua korban ini," katanya.

"Kami menempatkan mereka di masjid-masjid, di sekolah-sekolah. Kami kurang pasokan medis sekarang, terutama atropin, yang merupakan penawar untuk senjata kimia."

Berita terkait