India loloskan undang-undang makanan murah

india food
Image caption Masyarakat India mengumpulkan sisa makanan yang diberikan oleh sebuah restauran pada Juni lalu.

Majelis Rendah India meloloskan Rancangan Undang-undang Keamanan Pangan yang kontroversial yang bertujuan untuk menyediakan makanan bersubsidi bagi dua-pertiga penduduk negara itu.

Berdasarkan RUU itu, yang masih harus disetujui oleh Majelis Tinggi, ada sekitar 800 juta orang miskin akan menerima bantuan 5kg gabah murah setiap bulannya.

Para pendukung kebijakan ini berpendapat lolosnya RUU ini merupakan langkah besar menuju pemberantasan kelaparan dan kekurangan gizi yang parah India.

Namun kritikus mengatakan ini adalah pemborosan yang akan merugikan perekonomian India karena akan menghabiskan anggaran sebesar 1,3 triliun rupee (Rp260 triliun) per tahun.

Pemerintah meluncurkan program ini minggu lalu melalui keputusan eksekutif, tetapi membutuhkan persetujuan parlemen untuk membuatnya berlaku.

Dalam pidato di hadapan parlemen pada Senin (26/08) kemarin, Presiden Partai Kongres Sonia Gandhi mendesak anggota parlemen untuk menyetujui skema kesejahteraan unggulan partainya, yang ia katakan merupakan bagian dari "revolusi pemberdayaan" yang layak didukung penuh.

Kasus malnutrisi terbesar

"Ada yang bertanya -apakah kita punya sumber daya untuk menjalankan peraturan ini? Saya mau menjawab, masalahnya bukan terletak pada sumber daya, tapi bagaimana pengelolaan sumber daya itu," kata Gandhi.

"Kita harus melakukan ini," Gandhi berbicara di hadapan Majelis Rendah.

Sekitar sepertiga penduduk miskin di dunia hidup di India dan para pendukung RUU ini mengatakan kebijakan ini akan mengurangi kemiskinan dan kelaparan.

Namun, pihak yang menentang menyatakan kebijakan ini hanya untuk mengamankan suara partai saja.

Meskipun perekonomian India termasuk berkembang cukup pesat, negara ini masih berjuang untuk memberi makan rakyatnya. India juga menghadapi kasus terbesar malnutrisi pada anak-anak.

Pemerintah India sebelumnya berusaha menanggulangi kelaparan dengan memberi jatah makanan kepada siswa sekolah dasar.

Namun pada pertengahan bulan lalu, makanan yang dibagikan ternyata mengandung bahan kimia berbahaya dan menewaskan sedikitnya 22 murid sekolah.

Berita terkait