Kebocoran Fukushima lebih buruk dari perkiraan

  • 2 September 2013
Fukushima
Image caption Kepala Otorita Nuklir Jepang Tanaka menjelaskan tingkat kontaminasi Fukushima terbaru.

Pemerintah Jepang berupaya menenangkan rakyatnya setelah terungkapnya kebocoran di reaktor Fukushima lebih buruk dari yang diperkirakan sebelumnya.

Perdana Menteri Shinzo Abe mengatakan pemerintah akan menempuh langkah-langkah menyeluruh untuk membersihkan reaktor yang bocor akibat gempa dan tsunami, Maret 2011.

Hari Minggu (01/09) perusahaan operator Fukushima, Tepco, mengungkapkan tingkat radiasi di tangki yang menyimpan air yang terkontaminasi meningkat 18 kali lipa dan bisa menyebabkan kematian bagi seseorang setelah empat jam.

Pengumuman itu menyusul temuan pekan lalu bahwa air yang tercemar radioaktif dilaporkan bocor dari tangki penyimpanan ke lahan di sekitar PLTN Fukushima.

Tepco awalnya mengatakan tingkat radiasi akibat air yang bocor itu sekitar 100 milisievert per jam namun saat itu digunakan peralatan yang hanya mampu mencatat 100 milisievert per jam.

Akan tetapi pencatatan baru, menurut Tepco, menggunakan peralatan yang lebih sensitif dan memperlihatkan angkat 1.800 millisievert per jam.

Tidak menembus

Kepala Otorita Nuklir Jepang, Shunichi Tanaka, menjelaskan kepada wartawan bahwa yang ditemukan kali ini adalah beberapa titik kontaminasi, yang disebut sebagai titik panas.

"Sejauh yang saya dengan dari laporan hingga saat ini, tidak berarti kebocoran dalam jumlah besar air yang terkena radiasi namun berarti wilayah itu berada dalam situasi demikian," jelasnya kepada para wartawan.

Dia menambahkan bahwa angka 1.800 milisievert mungkin benar namun merupakan radiasi Beta yang tidak menembus lewat objek.

"Seperti yang dideteksi, merupakan radiasi Beta jadi tidak akan menembus lapisan plastik 5-10 milimeter atau sepatu kulit Anda. Mestinya tak masalah, bahkan jika Anda berdiri di sana sebentar."

Adapun rincian dari langkah yang akan ditempuh pemerintah akan diumumkan Selasa 3 September.

Reaktor Fukushima menderita serangkaian kebocoran dan kehilangan tenaga listrik setelah bencana gempa dan tsunami lebih dari dua tahun lalu.

Berita terkait