Wapres Filipina tawarkan dialog

  • 14 September 2013
Presiden Filipina Benigno Aquino meminta pemberontak tidak lukai warga sipil.

Wakil Presiden Filipina, Jejomar Binay melakukan pembicaraan dengan pimpinan gerilyawan Muslim setelah bentrokan mematikan di wilayah selatan negara itu.

Sejauh ini, Pemerintah Filipina dan kelompok pemberontak Front Pembebasan Nasional Moro, MNLF, telah sepakat melakukan gencatan senjata yang dimulai Sabtu (14/09) ini di kota Zamboanga.

Tujuan pembicaraan ini untuk menghentikan ketegangan di wilayah itu, yang antara lain ditandai aksi penyanderaan sekitar 100 warga sipil oleh kelompok pemberontak.

Sedikitnya 22 orang tewas akibat baku tembak antara pasukan pemerintah Filipina dan gerilyawan MNLF sejak awal pekan ini di Zamboanga.

Sekitar 15,000 orang warga setempat mengungsi untuk menghindari aksi kekerasan.

Pada Jumat (13/09) kemarin, Wakil Presiden Binay menelepon pimpinan MNLF Nur Misuari dan Menteri Pertahanan Voltaire Gazmin, yang keduanya akhirnya sepakat untuk menghentikan baku tembak.

Namun menurut Binay, Misuari menolak genjatan senjata dikaitkan dengan permintaan penghentikan penyanderaan warga sipil.

'Jangan lukai warga sipil'

Sekitar 1,500 warga Zamboanga memilih meninggalkan wilayahnya akibat bentrokan bersenjata.

Presiden Filipina Benigno Aquino, yang terbang ke Zamboanga pada Jumat, sebelumnya telah mengeluarkan peringatan kepada para pemberontak agar tidak melukai warga sipil.

Dia mengatakan pasukan pemerintah akan mengerahkan kekuatan "luar biasa" dan tidak akan ragu untuk menggunakannya saat menghadapi kelompok gerilyawan.

Lebih dari 1.000 tentara Filpina diturunkan untuk mengusir kelompok pemberontak MNLF keluar dari kota.

Para pejabat Filipina mengatakan, para pemberontak membakar berbagai fasilitas di kota Zamboanga pada Jumat, sebagai taktik pengalihan di tengah persoalan kekurangan makanan, perlengkapan dan amunisi di pihak mereka.

MNLF didirikan oleh Nur Misuari tahun 1971 dengan tujuan untuk memperjuangkan pendirian negara Islam. MNLF menandatangani perjanjian damai dengan pemerintah tahun 1996.

Namun, Nur Misuari mengeluh faksinya dipinggirkan dalam perjanjian damai yang saat ini dirundingkan antara pemerintah dan kelompok pemberontak lain, Front Pembebasan Islam Moro, MILF.

Bulan lalu, dia menyatakan negara Muslim merdeka di Filipina selatan.

Berita terkait