Unjuk rasa buruh garmen di Bangladesh masuki hari ketiga

  • 23 September 2013
Dhaka
Image caption Buruh garmen di Bangladesh dianggap paling menderita, dari gaji dan kondisi kerja.

Ribuan buruh garmen di Bangladesh menutup jalanan dan bentrok dengan polisi dalam aksi unjuk rasa menentang upah minimum.

Protes di pinggiran ibukota Dhaka ini menuntut peningkatan upah minimum dari sekitar US$38 menjadi US$100 dollar dan sudah sudah memasuki hari yang ketiga.

Dalam bentrokan hari ini, Senin 23 September, belasan orang cedera dan diperkirakan sekitar 300 pabrik garmen tutup.

Unjuk rasa pada hari ini merupakan yang terburuk sejak para buruh turun ke jalanan Sabtu pekan lalu.

"Situasinya amat rawan. Polisi melepas tembakan peluru karet dan gas air mata untuk membubarkan para pengunjuk rasa yang melakukan rusuh," tutur Mustafizur Rahman, Wakil Kepala Polisi wilayah Gazipur, kepada kantor berita AFP.

Unjuk rasa menentang upah rendah dan kondisi kerja yang buruk sering terjadi di Bangladesh namun semakin mendapat momentum setelah ambruknya gedung April lalu.

Dalam insiden tersebut, jatuh korban jiwa mencapai 800 jiwa dan insiden itu menjadi perhatian dunia internasional.

Belum ada kesepakatan

Salah seorang pemimpin serikat buruh mengatakan tidak akan berhenti turun ke jalan sampai tuntutan mereka dipenuhi.

"US$100 adalah minimum yang kami minta. Pekerja perlu lebih dari itu untuk bisa hidup layak," tegas Shahidul Islam Sabuj, seperti dikutip AFP.

Bangladesh merupakan salah satu pengekspor utama garmen dengan perkiraan menghasilkan pemasukan sampai US$20 miliar setiap tahunnya.

Namun para buruh garmen di negara itu tergolong yang paling menderita, baik dari segi upah maupun kondisi kerja.

Bulan Mei, pemerintah Bangladesh sudah menunjuk sebuah dewan untuk mengkaji upah buruh namun masih belum dicapai kesepakatan karena para pemilik pabrik mengatakan hanya mampu menaikkan upah buruh sekitar 20%, atau jauh dari tuntutan para buruh.

Berita terkait

Sekitar BBC