Iran rundingkan program nuklir di PBB

  • 24 September 2013
iran
Iran mengatakan uranium dikembangkan untuk tujuan damai.

Menteri Luar Negeri Iran akan bertemu dengan enam negara besar di Perserikatan Bangsa-Bangsa pekan ini untuk mendiskusikan program nuklir Teheran, demikian disampaikan pejabat AS dan Uni Eropa.

Pertemuan bersama Menteri Luar Negeri Iran Mohammed Javad Zarif ini juga akan dihadiri oleh Menteri Luar Negeri AS John Kerry, dan akan menjadi pertemuan pertama bagi AS dan Iran di level tinggi sejak 30 tahun terakhir.

Pembicaraan akan dilakukan di Markas PBB di New York. Presiden Iran yang baru dilantik Hassan Rouhani mengatakan siap membangun kembali pembicaraan nuklir dengan syarat-syarat tertentu.

Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Catherine Ashton mengatakan Zarif yang juga menjadi pemimpin negosiator nuklir, pekan ini akan bertemu dengan anggota Dewan Keamanan PBB, yaitu Inggris, Cina, Prancis, Rusia dan Amerika Serikat - serta ditambah Jerman.

"Kami melakukan diskusi yang baik dan konstruktif," kata Ashton setelah berbicara kepada Zarif pada Senin (23/09).

Dia mengatakan bahwa ia dikejutkan oleh "energi dan tekad" yang dia lihat dari Iran menjelang pertemuan pekan ini.

Namun, seorang pejabat Departemen Luar Negeri AS seperti dikutip kantor berita AFP memperingatkan bahwa "tak seorang pun harus memiliki harapan bahwa kita akan menyelesaikan masalah yang terjadi puluhan tahun ini lewat sebuah pertemuan."

Bukan senjata nuklir

Rouhani menjanjikan pendekatan yang lebih moderat dan terbuka dalam urusan internasional.

Sejak dilantik, Rouhani tengah menekankan pentingya perundingan yang 'serius dan subtansif' tentang program nuklir Teheran dengan masyarakat internasional.

Pekan lalu, dia menegaskan bahwa pihaknya tidak akan pernah membuat senjata nuklir.

Dalam sebuah wawancara dengan penyiar NBC di Amerika Serikat, Rouhani menekankan bahwa dia memiliki kewenangan penuh untuk bernegosiasi dengan Barat atas program pengayaan uranium Tehran.

Dan ia menggambarkan sebuah surat terakhir yang dikirim kepadanya oleh Presiden AS Barack Obama sebagai sesuatu "positif dan konstruktif."

Iran saat ini berada di bawah sanksi PBB dan Barat atas program nuklirnya yang kontroversial. Teheran mengatakan pihaknya memperkaya uranium untuk tujuan damai tetapi AS dan sekutunya mencurigai pemimpin Iran berusaha membangun senjata nuklir.

Berita terkait