Inspektur senjata PBB kembali ke Suriah

Inspektur PBB
Image caption Inspektur PBB akan memeriksa tiga lokasi yang diduga menjadi tempat serangan senjata kimia.

Tim inspektur PBB kembali ke Suriah untuk melanjutkan penyelidikan tentang kemungkinan penggunaan senjata kimia dalam konflik di negara tersebut.

Wartawan BBC di Damaskus Assaf Abboud melaporkan rombongan hari ini (25/09) berada di ibukota Suriah untuk melanjutkan misi pencarian fakta mengenai penggunaan senjata kimia.

"Menurut sumber-sumber di lingkungan misi PBB di Suriah, tim akan mengunjungi kawasan pedesaan Khan al- Assal, sekitar 14 kilometer dari kota Aleppo," jelas Abboud.

Dalam serangan di Khan al-Assal Maret lalu, sedikitnya 26 orang tewas. Baik pemerintah Suriah maupun kelompok pemberontak saling menuding sebagai pelaku serangan.

Selain itu, mereka juga dijadwalkan akan mengunjungi dua tempat lainnya yang diduga menjadi lokasi serangan kimia skala kecil tahun ini, di kota Homes dan di dekat Damaskus.

Tim inspektur PBB dipimpin oleh ilmuwan Swedia Ake Sellstrom. Seperti dalam misi pertema, mereka diinstruksikan untuk menyelidiki apakah senjata kimia memang digunakan, bukan mencari tahu siapa yang patut disalahkan.

Kesepakatan

Berdasarkan hasil penyelidikan sebelumnya, PBB menegaskan gas sarin digunakan dalam tembakan roket di pinggiran ibukota Damaskus pada 21 Agustus.

Image caption Korban yang diduga sebagai serangan kimia dirawat di rumah sakit Khan al- Assal.

Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya menuduh pemerintah Suriah berada di balik serangan yang diklaim menewaskan lebih dari 1.000 orang.

Pemerintah Suriah menuding kelompok pemberontak sebagai pelaku serangan dan pemerintah Rusia, sekutu dekat Suriah, mengatakan laporan PBB mengenai serangan senjata kimia tidak mencakup cukup bukti yang menunjukkan pemerintah Suriah terlibat.

Rusia sebelumnya menuduh inspektur senjata PBB membuat laporan berat sebelah karena hanya berdasarkan peyelidikan di satu lokasi, padahal terdapat tempat-tempat lain yang diduga mengalami serangan senjata kimia.

Belakangan Amerika Serikat dan Rusia menjembatani kesepakatan agar Suriah menyerahkan kendali senjata kimia ke tangan internasional.

Berita terkait