Militan menyewa toko sebelum menyerang mal

  • 28 September 2013
westgate
Gambar terbaru mengungkap kerusakan yang dialami mal Westgate dalam serangan pekan lalu.

Militan yang menyerang mal Westgate di Nairobi, Kenya diketahui telah menyewa sebuah toko beberapa pekan sebelum melakukan penyerangan, demikian pernyataan seorang tokoh senior militer kepada BBC.

Dengan menyewa toko di mal, maka militan memiliki akses untuk masuk ke lift barang yang membuat mereka bisa menimbun dan menyimpan senjata dan amunisi di dalam mal.

Dengan kondisi tersebut maka mereka bisa mempersenjatai diri kembali dan melawan pasukan keamanan, dalam insiden penyerangan empat hari yang menewaskan 67 orang. Palang Merah Kenya menyebut masih ada 61 orang lainnya dilaporkan hilang.

Ahli forensik hingga saat ini masih terus menyisir komplek mal guna mencari jenazah tersisa dan sejumlah petunjuk lainnya.

Dalam laporan penyelidikan BBC mengungkap bagaimana penyerang Westgate bisa membuat rencana dan melakukan penyanderaan selama empat hari, dan bagaimana sistem keamanan di mal bisa dengan mudah ditembus melalui jalur korupsi.

Untuk menyewa toko, militan perlu memiliki kartu identitas, dan diyakini mereka mendapatkan kartu identitas palsu setelah menyuap pejabat pemerintah.

Dalam laporan ini BBC juga mengungkap bagaimana dua kendaraan menurunkan ekstremis Islamis di luar mal sebelum mereka masuk menyerang ke dalam mal.

Mereka juga diyakini memanfaatkan pipa ventilasi sebagai tempat persembunyian di lantai pertama.

Penjelasan ke parlemen

Insiden penyerangan juga diwarnai dengan aksi penjarahan di toko perhiasan di dalam mal.

Pasukan keamanan juga mengkonfirmasikan adanya perubahan taktik yang dilakukan militan pada Sabtu dini hari.

Mereka mengeluarkan senjata mesin kaliber berat, memanfaatkan waktu saat operasi keamanan dialihkan dari polisi ke militer.

Ada laporan bahwa peralihan ini penuh dengan kebingungan diantara otoritas keamanan Nigeria.

Kepala badan keamanan Nigeria dijadwalkan akan memberikan penjelasan di hadapan komite pertahanan parlemen pada Senin mendatang, ditengah kekhawatiran terkait kesiapan otoritas keamanan dalam menghadapi serangan tersebut.

Ketua komite pertahanan parlemen Nigeria, Ndung'u Gethenji, kepada BBC mengatakan "warga wajib tahu bagaimana kelemahan dalam sistem keamanan yang memungkinkan insiden ini berlangsung."

Dia juga mengatakan bahwa mereka perlu untuk memahami "anatomi dari operasi penyelamatan secara keseluruhan" ditengah tuduhan adanya kebingungan atas siapa yang bertanggung jawab dalam operasi penyelamatan.

Kelompok militan Somalia al-Shabab, yang merupakan bagian dari al-Qaeda, mengaku bertanggung jawab atas serangan ini. Masih belum jelas berapa banyak militan yang terlibat dalam serangan dan kebangsaan mereka.

Juru bicara al-Shabab yang dihubungi BBC menolak untuk mengungkap identitas para penyerang.

Saat ini Kenya masih menggelar hari berkabung guna memperingati korban jiwa dari sipil dan militer yang ditimbulkan dalam serangan ini.

Berita terkait