PBB: satu dari delapan orang di dunia kelaparan

Padi
Image caption Kenaikan harga pangan di dunia menyebabkan banyak penduduk kelaparan.

Laporan badan-badan PBB yang mengurusi pangan menyebutkan bahwa satu dari delapan orang di seluruh dunia mengalami kelaparan.

Laporan yang mengambil data dalam dua tahun terakhir ini memperkirakan lebih 842 juta orang, atau sekitar 12% penduduk dunia, kekurangan gizi secara kronis.

"Sekitar satu dari delapan orang di dunia diperkirakan mengalami kelaparan kronis," kata Organisasi Pangan Dunia (FAO).

Badan-badan PBB yang mengurusi pangan, FAO, WFP dan IFAD, menyebut orang-orang yang kelaparan adalah mereka yang tidak punya makanan yang cukup untuk mendukung hidup aktif dan sehat.

"Negara-negara yang dilanda konflik selama dua dekade terakhir kemungkinan besar akan mengalami kemunduran besar dalam menekan angka kelaparan," kata PBB dalam laporan yang dikeluarkan di Roma, Italia, Selasa (01/10).

Angka baru ini lebih rendah dari perkiraan dua tahun silam, namun para penulis laporan memperingatkan sasaran tujuan Milenium untuk mengurangi 50% penduduk dunia yang kelaparan pada 2015, mungkin tak bisa dicapai sepenuhnya.

Kemajuan bervariasi

Kemajuan tercepat dicapai di negara-negara dengan pertumbuhan pesat di kawasan Asia Tenggara. Proporsi penduduk kelaparan di Asia Tenggara telah turun dari 31,1% pada sejak 1990 menjadi 10,7%.

Namun keberhasilan untuk mengurangi angka kelaparan dunia bervariasi dari satu kawasan ke kawasan lainnya.

"Afrika tetap menjadi wilayah dengan prevalensi kekurangan gizi tertinggi. Lebih satu dari lima orang diperkirakan kekurangan gizi," laporan PBB.

Negara-negara di Asia Selatan juga belum mencatat kemajuan berarti.

Wartawan BBC untuk Asia Selatan, Sanjoy Majumder, mengatakan hampir seperempat penduduk India, yang berjumlah lebih dari satu miliar jiwa, mengalami kelaparan.

"Hal ini terjadi meskipun kenyataannya India mampu memproduksi pangan cukup untuk seluruh penduduknya," lapor Majumder.

Namun karena sistem distribusi buruk dan fasilitas pergudangan tidak memadai maka sebagian hasil pertanian busuk atau gagal disalurkan ke setiap warga yang memerlukan.

Berita terkait