Diplomat Belanda dipukuli di Moskow

  • 16 Oktober 2013
Moskow
Image caption Pemerintah Belanda tidak menyebutkan nama diplomat yang diserang di Moskow.

Russia mengungkapkan penyesalan atas serangan terhadap seorang diplomat Belanda di Moskow.

Laporan-laporan menyebutkan dua orang yang mengaku tukang listrik menerobos masuk ke apartemen diplomat tersebut dan memukulinya serta menghadapkannya ke dinding.

Menteri luar negeri Belanda, Frans Timmermans, menyebutkan diplomat yang diserang menderita cedera ringan.

Kepolisia Rusia menyelidiki insiden tersebut sebagai tindakan kriminal.

Pemerintah Belanda sudah memanggil duta besar Rusia untuk memberikan penjelasan lebih lanjut tentang serangan itu.

"Warga kami harus bisa bekerja dengan aman dan saya ingin jaminan pihak berwenang menerima tanggung jawab untuk itu," tulis Timmermans dalam pesan Facebook-nya.

Timmermans tidak menyebut nama diplomat yang diserang namun media-media Rusia melaporkannya sebagai Onno Elderenbosch, yang merupakan orang kedua di Kedutaan Besar Belanda di Moskow.

Ketegangan kedua negara

Image caption Kapal Arctic Sunrise milik Greenpeace, yang ditangkap Rusia, berbendera Belanda.

Serangan atas diplomat Belanda ini terjadi di tengah-tengah peningkatan ketegangan dua negara, yang antara lain dipicu oleh penangkapan atas diplomat Rusia di Den Haag.

Media Belanda memberitakan Dmitry Borodin pada 5 Oktober lalu ditangkap polisi Belanda karena mabuk dan juga karena tetangganya melaporkan dia memperlakukan secara buruk kedua anaknya.

Pemerintah Belanda sudah mengajukan permintaan maaf atas penangkapan itu namun menegaskan bahwa polisi sudah bertindak secara profesional.

Sebelumnya kedua negara sempat bersitegang terkait penahanan aktivis Greenpeace oleh aparat keamanan Rusia, karena para pegiat berada di kapal berbendera Belanda, Arctic Sunrise.

Selain itu sebagian dari 30 awak Greenpeace yang sudah didakwa dengan pembajakan tersebut merupakan warga negara Belanda.

Belanda sudah menempuh upaya hukum untuk membebaskan para aktivis yang melakukan protes terhadap eksplorasi di Kutub Utara, yang melibatkan perusahaan negara Rusia, Gazprom.

Ketegangan ini terjadi pada saat kedua negara sudah memutuskan tahun 2013 untuk memperingati sejarah hubungan keduanya, yang antara lain ditandai dengan rencana kunjungan Raja Willem Alexander ke Rusia pada 9 November.

Berita terkait