Tuntutan hukuman seumur hidup untuk pemimpin Khmer Merah

Khieu Samphan
Image caption Khieu Samphan menjabat kepala negara saat Khmer Merah berkuasa di Kamboja.

Jaksa pengadilan mahkamah kejahatan perang internasional di Kamboja menuntut hukuman maksimal seumur hidup untuk dua pemimpin senior Khmer Merah yang masih hidup.

Nuon Chea, 87 tahun dan Khieu Samphan, 82 tahun, didakwa dengan kejahatan atas kemanusian karena peran mereka dalam rezim Khmer Merah di negara itu pada 1975-1979.

Pengadilan diperkirakan baru akan memutuskan vonis atas keduanya pada awal tahun depan.

Jaksa Che Leang merangkum tuntutan pada Senin 21 Oktober dengan hukuman maksimal.

"Atas nama rakyat Kamboja dan komunitas internasional, kami meminta keadilan -keadilan bagi korban yang binasa dan keadilan bagi korban yang selamat hari ini yang melewati kehidupan yang ganas dan kejam di bawah kepemimpinan kedua terdakwa dan pemimpin lainnya," jelasnya seperti dikutip kantor berita AFP.

Diperkirakan hampir dua juta orang tewas karena kelaparan, kelelahan, disika, maupun dieksekusi secara massal sepanjang pemerintahan Khmer Merah.

Nuon Chea merupakan pemimpin nomor dua di Khmer Merah sementara Khieu Samphan adalah kepala negara.

Image caption Sidang atas Nuon Chea dan Khieu Samphan disiarkan ke luar ruang sidang.

Sebelumnya mereka mengaku bertindak demi kepentingan bangsa dan tidak menyadari skala menyeluruh dari pembunuhan yang terjadi.

Baru satu yang dihukum

Dua terdakwa lain juga diadili adalah yaitu Ieng Sary yang pernah menjabat menteri luar negeri dan istrinya yang dulu menjabat menteri sosial, Ieng Thirith.

Namun Ieng Sary meninggal pada usia 87 tahun sebelum pengadilan menyampaikan vonis sedang Thirith, 82 tahun, dibebaskan karena pengadilan memutuskan tidak tidak cukup sehat untuk meneruskan pengadilan.

Sementara pemimpin Khmer Merah yang meninggal tahun 1998, tidak sempat diadili.

Hingga saat ini baru seorang pemimpin Khmer Merah yang menjalani hukumna, yaitu Kaing Guek Eav yang mendapat nama panggilan Duch.

Kepala penjara Tuol Seng yang menakutkan itu -tempat tewasnya ribuan warga Kamboja- dihukum penjara seumur hidup.

Awal September, para pegawai di mahkamah internasional di Kamboja melakukan aksi mogok karena belum mendapat gaji selama tiga bulan belakangan.

Hampir semua yang mogok adalah pegawai warga Kamboja yang antara lain bertugas sebagai penterjemah, yang perannya amat penting dalam pengadilan internasional tersebut.

Berita terkait