Permintaan hukum untuk bebaskan pegiat Greenpeace

  • 6 November 2013
Greenpeace
Image caption Sejumlah pegiat Greenpeace menggelar unjuk rasa di Moskow menuntut pembebasan rekannya.

Belanda meminta mahkamah internasional untuk membebaskan 30 pegiat Greenpeace dan wartawan yang saat ini ditahan Rusia.

Namun pemerintah Rusia tidak hadir dalam sidang yang dimulai hari ini, Rabu 6 November, setelah bulan lalu menyatakan tidak bisa menerima arbitrasi dari pengadilan internasional.

Perwakilan pemerintah Belanda, Liesbeth Lijnzaad, mendesak agar pengadilan meneruskan kasus itu walau pihak Rusia tidak hadir.

Mahkamah Internasional untuk Hukum Laut yang berkantor di Hamburg, Jerman, sudah menyatakan akan mempertimbangkan permohonan yang diajukan Kementrian Luar Negeri Belanda tersebut.

Menurut Kemenlu Belanda, para tersangka mestinya dibebaskan sampai kasus mereka disidang ke pengadilan.

Bagaimanapun mahkamah internasional mengatakan bahwa pertama-tama mereka perlu memutuskan lebih dulu apakah kasus ini masuk dalam wewenang hukum mereka atau tidak.

Dakwaan pembajakan dicabut

Hari ini sejumlah pegiat Greenpeace menggelar aksi di Moskow dengan membawa spanduk yang meminta pembebasan rekan-rekannya dengan menggunakan prahu motor di depan Kremlin, kantor pemerintah Rusia.

Image caption Kapal Greenpeace diserbu aparat keamanan Rusia dan dibawa ke pelabuhan.

Para pegiat Greenpeace ditahan Rusia karena menggelar aksi unjuk rasa di anjungan lepas pantai milik Rusia di Kutub Utara pada tanggal 18 September lalu.

Dua wartawan yang berada di dalam kapal Arctic Sunsrise bersama dengan 28 pegiat Greenpeace ikut ditangkap dan sudah didakwa oleh pengadilan .

Mereka kini didakwa melanggar undang-undang kerusuhan setelah dakwaan awal pembajakan -dengan hukuman maksimal 15 tahun penjara- dicabut oleh pengadilan.

Dua pegiat Greenpeace menaiki anjungan minyak Gazprom dari kapal Arctic Sunrise, -yang diserang aparat keamanan Rusia September lalu.

Komisi Penyelidikan Rusia mengatakan bahwa tujuan damai dari aksi tidak bisa membenarkan yang mereka sebut sebagai sebuah 'serangan' yang membawa ancaman atas anjungan minyak dan pekerjanya.

Berita terkait