Marinir diputus bersalah dalam pembunuhan di Afghanistan

marinir_inggris
Image caption Peritiwa pembunuhan itu terekam dalam kamera yang terdapat pada helm sang marinir.

Seorang anggota marinir Inggris diputus bersalah oleh pengadilan militer karena membunuh seorang tahanan anggota pasukan pemberontak Afghanistan yang terluka.

Dalam tuntutan di pengadilan, aksi anggota marinir beinisial A dikatakan sebagai 'tindakan eksekusi.'

A yang berpangkat sersan ini menghadapi ancaman hukuman seumur hidup atas kasus penembakan yang dilakukan saat patroli di Provinsi Helmand pada tahun 2011 lalu.

Dua anggota marinir lainnya yang sempat terseret kasus tersebut dinyatakan tidak terkait oleh pengadilan militer.

Birigadir Bill Dunham dari Kesatuan Marinir Kerajaan Inggris mengatakan pembunuhan-yang baru pertama terjadi ini- merupakan peristiwa yang 'mengejutkan dan mengerikan.'

Keluarga Besar Marinir dilaporkan menitikan air mata saat mendengar pembacaan putusan di Pusat Pengadilan Militer, Bulford, Wiltshire pada hari Jumat (08/11).

Bersifat terbuka

Marinir A akan mendengar pembacaan hukumannya pada tanggal 6 Desember dan saat ini berada dalam penahanan sementara dua marinir yang sempat tersangkut kasus ini dan dinyatakan tidak bersalah telah dilepaskan dan kembali dalam penugasan militer.

Tahun lalu sebuah perintah yang dikeluarkan oleh pejabat militer yang tidak disebutkan identitasnya telah meminta perlindungan terhadap anggota marinir ini dari aksi balas dendam dan memerintahkan untuk tetap di dalam penahanan.

Dalam persidangan itu hakim juga memperdengarkan rekaman perbincangan saat peristiwa itu terjadi.

Ketiga Marinir itu ditangkap pada bulan Oktober tahun lalu setelah sebuah video tentang peristiwa penembakan itu ditemukan oleh polisi Inggris.

Wartawan BBC untuk urusan keamanan, Caroline Wyatt mengatakan sidang kasus dengan tuntutan pembunuhan yang melibatkan tentara Inggris terkait konflik di Afghanistan adalah yang pertama terjadi.

Sejumlah pengamat mengatakan Kementerian Pertahanan Inggris harus tranparan dalam membuka kasus ini.

Berita terkait