Bentrok warnai protes upah Bangladesh

Protes kenaikan upah di Bangladesh
Image caption Berbagai protes digelar guna menuntut kenaikan upah minimum.

Ribuan buruh pabrik pakaian Bangladesh yang menuntut kenaikan upah terlibat bentrok dengan polisi di kawasan industri di luar ibukota Dhaka.

Para pekerja marah atas usulan pemerintah menaikan upah minimum dari sekitar US$38 (Rp434.000) menjadi US$66 (750.000) per bulan dengan alasan kenaikan itu terlalu rendah.

Kenaikan yang dituntut buruh adalah US$100 per bulan.

Pekan lalu Dewan Pengupahan Bangladesh menyepakati kenaikan US$66 per bulan setelah menggelar pertemuan dengan kalangan industri, serikat pekerja, dan pemerintah.

Kenaikan tersebut masih perlu disahkan oleh Kementerian Tenaga Kerja sebelum diberlakukan.

Sejauh ini Asosiasi Produsen dan Eksportir Garmen Bangladesh menolak kenaikan upah menjadi US$66 yang dianggap terlalu tinggi dan mendesak pemerintah tidak mengesahkan kenaikan itu.

Unjuk rasa yang diikuti ribuan orang di kawasan industri Penushulia dan Savar hari ini (11/11) membuat 100 pabrik garmen terpaksa tutup karena buruh mengikuti aksi.

"Terdapat sekitar 30.000 pekerja yang keluar dari pabrik dan turun ke jalan-jalan," kata seorang pejabat polisi, Abdus Sattar kepada kantor berita AFP.

Alasan lain penutupan pabrik adalah untuk mencegah aksi anarkis dan bentrok lebih lanjut.

Bangladesh tercatat sebagai salah satu negara dengan industri garmen terbesar di dunia, tetapi dikritik karena kondisi buruk pekerja.

Berita terkait