Bangladesh harus perbaiki industri garmen

  • 19 November 2013
pabrik_bangladesh
Image caption Kecelakaan di lingkungan industri garmen Bangladesh kerap terjadi.

Organisasi Perburuhan Internasional, ILO mengatakan Bangladesh harus melakukan reformasi terhadap industri garmennya guna menjaga pertumbuhan ekonomi di negara itu.

ILO mengatakan kondisi kerja yang aman dan gaji layak bagi buruh garmen merupakan hal yang vital.

Laporan badan PBB itu muncul setelah terjadinya serangkaian kecelakaan yang melanda pabrik garmen di Bangladesh.

Kecelakaan yang terjadi selama ini telah mengakibatkan 1.130 orang tewas.

Beberapa kali pabrik garmen di Dhaka, Bangladesh runtuh akibat kondisi bangunan yang tidak layak.

Sektor garmen merupakan sektor penting penunjang ekonomi Bangladesh dan berkontribusi dalam memasok lima persen kebutuhan pakaian global.

Posisi mereka sebagai ekportir pakaian di dunia hanya bisa dikalahkan oleh Cina.

Turunkan daya saing

Dalam laporannya ILO mengatakan "tanpa adanya pembentukan pasar tenaga kerja serta kebijakan sosial yang baru, Bangladesh tidak akan mampu menjaga momentum ekonomi dan meningkatkan standar hidup yang berekelanjutan."

Laporan ILO menunjukan bahwa buruh pabrik garmen di Bangladesh memiliki gaji lebih rendah buruh yang berada di Kamboja, Vietnam, India atau Pakistan.

Gaji buruh garmen di negara itu baru mengalami penyesuaian sebanyak tiga kali dalam kurun waktu tiga puluh tahun terakhir.

Awal bulan ini dewan pengupahan Bangladesh mengusulkan kenaikan gaji buruh pabrik garmen hingga 77% menjadi sekitar US$68 perbulan atau sekitar Rp789 ribu lebih perbulan.

Usulan ini masih jauh lebih rendah dari tuntutan serikat buruh di negara itu.

ILO mengatakan reformasi di sektor garmen merupakan investasi terbaik yang bisa dilakukan oleh Bangladesh untuk menjaga eksport dan mendukung penciptaan lapangan kerja.

Namun pemilik pabrik berpendapat bahwa kenaikan gaji yang tinggi bisa merusak daya saing produk mereka.

Berita terkait