PM Thailand serukan pemilihan umum

  • 9 Desember 2013
cn yingluck
PM Yingluck Shinawatra mengatakan pemilu akan diselenggarakan "sesegera mungkin."

Perdana Menteri Thailand Yingluck Shinawatra mengatakan akan membubarkan parlemen dan menyerukan pemilu, sebagai reaksi protes berkelanjutan di ibukota Bangkok.

Langkah ini menyusul pengunduran diri semua anggota parlemen oposisi dari parlemen pada hari Minggu (08/12), dan aksi yang direncanakan dilangsungkan di gedung Government House pada hari Senin (09/12).

Yingluck memenangkan pemilihan umum pada 2011 silam. Namun para pengunjuk rasa menuduh pemerintahannya dikendalikan oleh pemimpin yang digulingkan Thaksin Shinawatra, dan mereka bersumpah untuk melanjutkan demonstrasi.

"Pemerintah tidak ingin ada korban jiwa," kata PM Yingluck.

"Pada tahap ini, ketika ada banyak orang dari berbagai kelompok menentang pemerintah, cara terbaik untuk mengatasinya adalah memberikan kembali kekuasaan kepada rakyat Thailand dan menyelenggarakan pemilu," katanya.

"Jadi rakyat Thailand akan memutuskan."

Belum ada tanggal pasti untuk pemilu tetapi Yingluck mengatakan pemilu akan diselenggarakan "sesegera mungkin."

Berdasarkan peraturan Thailand pemilu harus diadakan dalam waktu dua bulan dari saat parlemen dibubarkan, kata wartawan BBC Jonathan Head di Bangkok.

Belum cukup

Pengunjuk rasa menginginkan perubahan sistem demokrasi secara menyeluruh.

Namun langkah ini dinilai masih kurang memuaskan kebanyakan pengunjuk rasa yang berpendapat bahwa sistem demokrasi perlu diubah total serta Yingluck dan keluarganya diminta meninggalkan negara itu, kata Jonathan Head.

Pengunjuk rasa anti-pemerintah, yang telah meminta pemerintahnya diganti dengan "Dewan Rakyat", mengatakan aksi unjuk rasa akan terus berlanjut.

Pemimpin pengunjuk rasa Suthep Thaugsuban, yang juga seorang politisi oposisi senior, mengatakan: "Gerakan ini akan terus berjuang. Tujuan kami adalah untuk mencabut rezim Thaksin."

"Meskipun DPR dibubarkan dan akan ada pemilihan umum yang baru, rezim Thaksin masih tetap di tempat," tambahnya.

Puluhan ribu pengunjuk rasa yang keluar di jalan-jalan Bangkok, berbaris menuju Government House dari beberapa arah yang berbeda.

Lebih dari 60 sekolah di Bangkok ditutup sebagai tindakan pencegahan, kantor berita AP melaporkan.

"Polisi tidak bersenjata, hanya membawa perisai dan pentungan. Kami tidak akan menggunakan gas air mata, atau jika kita tidak punya pilihan, penggunaannya akan terbatas," kata Menteri Dalam Negeri Jarupong Ruangsuwan pada hari Minggu (08/12).

Sejauh ini belum ada laporan terjadinya kekerasan dalam protes hari Senin (09/12). Namun, lima orang tewas sepanjang bentrokan yang pecah selama protes pekan lalu.

Berita terkait