Militer Myanmar dituduh gunakan 'senjata pemerkosaan'

  • 15 Januari 2014
Perempuan Myanmar Image copyright Reuters
Image caption Liga Perempuan Burma menyebutkan ada pemerkosaan dengan korban anak delapan tahun.

Militer Myanmar dituduh tetap menggunakan pemerkosaan sebagai senjata perang setelah pemerintah sipil terbentuk tahun 2010.

Sebuah lembaga pegiat, Liga Perempuan Burma, mengatakan mereka mencatat lebih dari 100 pemerkosaan, termasuk anak yang masih berusia delapan tahun.

Sebagian besar pemerkosaan terkait dengan konflik di kawasan Kachin dan negara bagian Shan.

Sekitar setengah merupakan pemerkosaan beramai-ramai dan 28 perempuan meninggal, seperti tertulis dalam laporan Liga Perempuan Burma.

"Sifatnya yang meluas dan sistematis mengindikasikan sebuah pola yang terstruktur: pemerkosaan masih digunakan sebagai peralatan perang dan penindasan.

Namun seorang juru bicara kepresidenan, Ye Htut, membantah tegas tuduhan tersebut.

"Jika ada kasus pemerkosaan yang dilakukan perorangan, kami berupaya mengungkapkannya dan mengambil tindakan efektif atas pelakunya," tuturnya kepada kantor berita Reuters.

Prsiden Thein Sein sudah menerapkan reformasi sejak pemilihan November 2010 setelah pemilihan umum yang membentuk pemerintahan sipil dukungan militer.

Wartawan BBC di Rangoon, Jonah Fisher, melaporkan akhir bulan ini akan digelar perundingan baru untuk mencapai gencatan senjata dalam semua konflik etnik di Myanmar.

Berita terkait