Serangan militan makin ganas di Mesir

  • 25 Januari 2014
Kairo
Kerusakan parah terjadi akibat rangkaian pemboman sepanjang hari Jumat (24/01) di Kairo.

Kelompok militan diduga meningkatkan serangan mereka di Mesir dengan serangkaian aksi ledakan di ibukota Kairo.

Enam orang tewas dan sekitar 100 lainnya luka dengan serangan terbesar di luar markas polisi di kota itu.

Serangan ini seolah menandai tiga tahun penggulingan presiden yang saat itu berkuasa, Hosni Mubarak.

Sepuluh korban lain dilaporkan tewas dalam bentrok antara aparat keamanan dengan kelompok pendukung Ikhwanul Muslimin.

Dalam ledakan di luar kantor polisi Kairo, empat orang tewas dan sedikitnya 76 lainnya cedera.

Beberapa jam kemudian muncul ledakan berikutnya di lokasi lain menwaskan dua orang dan juga melukai banyak lainnya.

Menurut media lokal sekelompok orang dalam aliran militan yang terilhami dari gerakan al-Qaeda, Ansar Beit al-Maqdis, mengatakan melakukan serangan ke markas polisi.

Kelompok ini sebelumnya mengklaim serangan bom dengan mobil pada sebuah bangunan pasukan keamanan di kota di utara Mesir, Mansoura pada Desember lalu yang menewaskan 16 jiwa dan melukai 100 lainnya.

Pemerintah menuding kelompok Ikhwanul Muslimin sebagai dalang serangan tersebut - yang dibantah keras kelompok ini - dan mencap Ikhwanul sebagai kelompok teroris.

Sekelompok orang yang marah berkumpul di luar lokasi pemboman di kantor polisi menuding Ikhwanul sebagai dalang dibalik serangan hari Jumat (24/01) itu. Sebagian menyerukan "Mati untuk Ikhwanul Muslimin".

Tetapi kelompok ini sendiri mengutuk serangan itu sebagai "pemboman pengecut".

Penyerang juga memakai bom mobil berkekuatan besar dalam serangannya di Kairo.

Pendukung Ikhwanul dan pasukan keamanan bentrok di Kairo dan beberapa kota lain pada Jumat yang sama, dan akibatnya 10 orang dilaporkan tewas.

Sejak Hosni Mubarak dipaksa turun Mesir terus dilanda pertentangan dan krisis politik.

Kementrian Dalam Negeri mengatakan menahan 111 orang, mengatakan bahwa mereka adalah "elemen kelompok Ikhwanul" yang "mencoba mengobarkan kerusuhan".

Aparat kerap bentrok dengan pendukung Ikhwanul Muslimin memprotes penurunan Morsi.

Aksi protes secara rutin digelar kelompok ini sejak presiden yang terpilih secara demokratis dari kubu Ikhwanul, Mohammed Morsi, diturunkan paksa Juli lalu.

Berita terkait