Perundingan Suriah berakhir 'saling tuduh'

  • 1 Februari 2014
Lakhdar Brahimi Hak atas foto Reuters
Image caption Lakhdar Brahimi dari PBB mengatakan kemajuan sangat lambat tetapi menjadi awal yang cukup baik.

Pemerintah Suriah dan oposisi saling memaki setelah perundingan damai selama sepekan di Jenewa berakhir tanpa kesepakatan penting.

Menteri Luar Negeri Suriah, Walid Muallem, mengatakan pihak oposisi tidak dewasa, sementara Louay Safi dari delegasi oposisi mengatakan rezim tidak memiliki keinginan untuk menghentikan pertumpahan darah.

Sementara itu, utusan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Lakhdar Brahimi mengatakan dia melihat sudah ada "pemikiran dasar yang sama" antar dua pihak, dan menjadwalkan perundingan lagi pada 10 Februari mendatang.

Oposisi sudah menyatakan setuju untuk bergabung, tetapi Muallem menolak untuk memberikan komitmennya.

"Kami mewakili kekhawatiran dan kepentingan orang-orang kami. Jika kami merasa [pertemuan berikutnya] adalah keinginan mereka, maka kami akan kembali," kata Muallem kepada wartawan.

Membuka akses

Hak atas foto Getty
Image caption Delegasi oposisi, Louay Safi, mengatakan tidak ingin berunding tanpa henti dan mendesak pemerintah menyerahkan kekuasaan.

Dia mengatakan pihak oposisi mencoba untuk "memanaskan konferensi" dengan memaksa pemerintah untuk menyerahkan kekuasaan.

Di sisi lain, pemimpin oposisi Ahmed Jarba mengatakan ia dan rekan-rekannya telah "melawan rezim, rezim yang hanya tahu darah dan kematian".

Kedua belah pihak membahas isu-isu kemanusiaan dan cara yang mungkin untuk mengakhiri kekerasan.

Perundingan damai pertama ini sudah membuat beberapa kesepakatan tentang warga sipil di Homs dan tentang gencatan senjata di sejumlah daerah lokal untuk memungkinkan akses bagi para pekerja kemanusiaan.

Kepala bantuan PBB Valerie Amos mengatakan kesepakatan itu telah mengizinkan beberapa bantuan untuk bisa lolos ke beberapa ribu keluarga.

Berita terkait