Krisis Ukraina, Menlu AS-Rusia saling kontak

  • 8 Maret 2014
Pasukan sipil bersenjata yang pro Rusia ikut bergabung bersama pasukan Rusia di Krimea, Ukraina.

Upaya penyelesaian diplomatik untuk mengatasi krisis di Ukraina yang ditandai percakapan melalui telepon antara Menteri luar negeri AS dan Rusia, terus dilakukan.

Menteri luar negeri Rusia, Sergei Lavrov menyarankan Menlu AS John Kerry agar tidak mengambil tindakan tergesa-gesa yang disebutnya dapat merusak hubungan dua negara.

Dia juga memperingatkan bahwa ancaman sanksi AS dapat menjadi bumerang.

Departemen Luar Negeri AS mengatakan konsultasi antara kedua negara akan terus berlanjut.

Washington sebelumnya mengatakan bahwa kehadiran sekitar 20.000 pasukan Rusia di Krimea, telah menyebabkan terjadinya keteganganan di wilayah itu.

Pada Jumat (07/03), sekelompok pria bersenjata pro Rusia sempat mengepung tempat penyimpanan rudal milik militer Ukraina.

Ancaman terbesar

Kehadiran kelompok sipil pro Rusia dikhawatirkan makin memanaskan suasana di Krimea.

Wartawan BBC di Krimea mengatakan, saat ini ancaman terbesar di wilayah itu adalah kemungkinan meningkatnya aksi kekerasan.

Sebelumnya, keputusan parlemen Krimea menetapkan tanggal 16 Maret sebagai jadwal pelaksanaan referendum, diprotes AS dan Uni Eropa.

Uni Eropa, ketika bertemu di Brussels, mengancam "konsekuensi serius" jika Rusia tidak bertindak untuk menghentikan krisis tersebut.

Pasukan Rusia secara de facto telah mengambil alih kendali atas Krimea, wilayah yang populasinya mayoritas etnis Rusia, setelah tumbangnya kekuasaan Presiden Yanukovich yang pro Moskow.

Berita terkait