Adam Air hilang, tiga hari muncul petunjuk

AU Indonesia Hak atas foto AP
Image caption Tim Angkatan Udara Indonesia melakukan persiapan di Medan sebelum diterjunkan ke Selat Malaka.

Hingga hari keenam setelah pesawat Malaysia Airlines dinyatakan hilang dalam penerbangan dari Kuala Lumpur ke Beijing belum ditemukan tanda-tanda lokasi pesawat, sementara ketika Adam Air hilang pada 2007, tiga hari sudah ditemukan potongan.

Penyelidik senior Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Prof. Dr. Mardjono Siswosuwarno, yang menangangi penyelidikan jatuhnya pesawat Adam Air di perairan Majene, Sulawesi Barat pada 1 Januari 2007, mengatakan kunci utama adalah plot radar yang diambil dari empat atau lima titik.

Dari titik-titik tersebut kemudian ditentukan lokasi titik kira-kira titik terakhir pesawat terbang yang hilang dalam penerbangan dari Surabaya ke Manado.

"Kemudian ada search (pencarian) kapal laut maupun udara. Yang sangat menguntungkan adalah ditemukannya potongan elevator yang menyangkut dijaringnya nelayan," kata Profesor Mardjono, Kamis (13/03).

Penemuan potongan itu terjadi pada hari ketiga setelah pesawat Adam Air dinyatakan hilang dan pada hari kelima muncul meja makan dari pesawat.

Kebingungan

Beberapa minggu kemudian Indonesia mendatangkan kapal khusus Amerika Serikat yang ditempatkan di Filipina. Kapal menggunakan sonar dan hydrophone untuk menangkap ULB, Underwater Locator Beacon, atau pinger.

"Alat itu menempel pada black boxes dan memancarkan terus menerus suara ping, ping, ping selama 30 hari. Nah dari itu ditangkap," jelasnya.

Fokus pencarian ini membuahkan hasil karena tim pencari akhirnya berhasil menemukan lokasi pesawat terbang di kedalaman sekitar 2.000 meter dari permukaan.

Dalam kasus hilangnya pesawat Malaysia Airlines MH370 dari Kuala Lumpur ke Beijing yang hilang pada Sabtu (08/03), pihak berwenang Malaysia semula memusatkan pencarian di wilayah Laut Cina Selatan, tempat kira-kira pesawat melakukan kontak terakhir dengan menara pengawas.

Beberapa hari kemudian, cakupan pencarian diperluas dan bahkan dialihkan ke Selat Malaka atas dugaan pesawat berbalik arah menuju Kuala Lumpur.

Namun muncul kebingungan setelah Kepala Angkatan Udara Malaysia Rodzali Daud membantah pernyataan bahwa pesawat Malaysia Airlines yang hilang terlacak radar militer ke Selat Malaka atau jauh dari rute penerbangan ke Beijing.

Hak atas foto Reuters
Image caption Sebagian keluarga penumpang warga negara Cina menyatakan kemarahan kepada Malaysia.

Daud mengatakan laporan yang oleh media dikatakan berasal dari dirinya itu tidak benar, meski ada kemungkinan bahwa pesawat sempat balik arah.

Hingga hari keenam, jejak pesawat Malaysia Airlines belum ditemukan meskipun dilakukan pencarian skala besar yang melibatkan belasan negara.

Menurut Profesor Mardjono, penyelidik senior KNKT, benda-benda yang diperkirakan muncul ke permukaan bila pesawat jatuh ke laut antara lain kepingan pesawat, tempat duduk dan tempat makan.

Adapun koper, tas dan baju biasanya sudah hancur.

Berita terkait