Parlemen Krimea resmikan pemisahan dari Ukraina

  • 17 Maret 2014
Krimea
Ribuan orang merayakan hasil referendum

Parlemen Krimea secara resmi mendeklarasikan kemerdekaan dari Ukraina dan meminta untuk bergabung dengan Federasi Rusia.

Keputusan itu diambil setelah referendum yang kontroversial pada Minggu (16/03), dengan hampir 97% penduduk memilih untuk bergabung dengan Federasi Rusia, menurut Kepala komisi pemilihan Ukraina, Mikhail Malyshev.

Pemerintah di Kiev telah mengatakan tidak akan mengakui hasil tersebut. AS dan Uni Eropa mengatakan pemungutan suara adalah ilegal dan akan mengenakan sanksi bagi Moskow.

Semenanjung Krimea telah dikuasai oleh pasukan pro-Rusia sejak akhir Februari lalu.

Moskow mengatakan tentara yang mendukung Rusia itu merupakan pasukan pertahanan, tetapi tidak berada dalam kontrol langsung Rusia.

Krisis itu terjadi menyusul penggulingan Presiden Ukraina pro Moskow Viktor Yanukovych pada 22 Februari lalu, setelah terjadi protes selama beberapa bulan dan bentrokan yang memakan korban.

Etnis minoritas Tatar di Krimea menolak referendum

Perdana Menteri sementara Ukraina Arseniy Yatsenyuk mengatakan pemungutan suara merupakan "sebuah pertunjukan sirkus", yang didukung lebih dari 21.000 tentara Rusia, lengkap dengan senjata mereka untuk membuktikan legalitas referendum".

Presiden sementara Oleksandr Turchynov menggambarkan referendum sebagai "pertunjukan sandiwara" yang "tidak akan diakui oleh Ukraina ataupun oleh warga dunia".

Pemungutan suara diboikot minoritas Ukraina dan keturunan Muslim Tatar di Krimea, dan banyak pihak mengkritik proses pemilihan tersebut.

Berita terkait