Kota Mosul jatuh, PM Irak serukan keadaan darurat

Kelompok militan di Mosul Hak atas foto Reuters
Image caption Kelompok militan di Mosul secara efektif menguasai kota terbesar kedua di Irak.

Perdana Menteri Irak Nouri al-Maliki meminta parlemen menyatakan keadaan darurat setelah kelompok ekstrem berhaluan Islam mengambil alih kota Mosul di bagian utara.

PM Nouri al-Maliki menyampaikan permintaan tersebut dalam konferensi pers yang disiarkan secara langsung, Selasa (10/06).

Kelompok ekstrem berhaluan Islam di Irak telah merebut bangunan-bangunan utama milik pemerintah di kota Mosul, dengan demikian secara efektif mereka mengambil alih kekuasaan di kota kedua terbesar di negara itu.

Di antara tempat-tempat yang direbut adalah bandar udara, markas militer, dan berbagai penjara. Ratusan orang bersenjata dengan senjata granat roket dan senapan mesin merebut tempat-tempat itu.

Angkatan bersenjata dan polisi dilaporkan telah meninggalkan pos penjagaan, sementara ribuan penduduk melarikan diri dari kota itu.

Image caption Pergerakan milisi tidak dapat dihadang meskipun pasukan pemerintah ditambah.

Ketua parlemen Irak mengatakan kelompok teroris kini menguasai bukan hanya Mosul tapi juga keseluruhan Provinsi Nineveh dan menyerukan agar pasukan pemerintah segera dikirim ke sana.

Kelompok Negara Islam di Irak dan Levant, kata wartawan BBC Jim Muir, telah menguasai sebagian wilayah Provinsi Nineveh selama berbulan-bulan dan memungut biaya pengiriman barang serta menuntut uang perlindungan kepada para pejabat.

Setelah bertempur selama lima hari, mereka menguasai instalasi-instalasi penting di ibukota Provinsi Nineveh, Mosul, yang dihuni sekitar 1,8 juta penduduk.

Berita terkait