Pemberontak batasi akses ke lokasi MH17

  • 19 Juli 2014
Hak atas foto AP
Image caption Tim peninjau kesulitan untuk mengakses lokasi yang dikuasai kelompok pemberontak.

Tim peninjau internasional mengatakan kelompok pro-Rusia di Ukraina membatasi akses mereka ke puing-puing pesawat Malaysia Airlines.

Juru bicara OSCE mengatakan akses ke lokasi dikontrol oleh orang-orang bersenjata dan seseorang sempat menembak ke udara.

Padahal, menurut salah anggota tim OSCE Michael Bociurkiw, komandan kelompok pemberontak sudah memberikan izin untuk melakukan penyelidikan di lokasi.

"Seorang penjaga bersenjata terlihat mabuk dan menembakkan senapannya di udara ketika salah seorang peninjau berjalan keluar dari wilayah yang ditentukan," kata Bociurkiw kepada wartawan.

Sebanyak 25 orang peninjau mundur setelah lebih dari satu jam karena tidak bisa membangun sebuah koridor akses untuk tim spesialis yang akan menyelidiki kecelakaan itu, ia menambahkan.

Namun Thomas Greminger, ketua dewan permanen OSCE dari Swiss, mengatakan kepada BBC bahwa mereka akan terus bekerja untuk memastikan penyelidikan internasional bisa dilakukan.

Hak atas foto AFP
Image caption Sejumlah penambang di Ukraina membantu pencarian jenazah di ladang gandum di dekat lokasi.

Bendera setengah tiang

Sementara itu wartawan BBC, Alice Budisatrijo di Malaysia, melaporkan bahwa fokus utama yang akan dilakukan oleh otoritas Malaysia adalah masuk ke lokasi kejadian di wilayah Ukraina.

Sepanjang jalan, terlihat rumah dan gedung-gedung memasang bendera setengah tiang sebagai simbol duka atas tragedi tersebut, kata Alice.

Penerbangan MH17 jatuh setelah ditembak oleh roket - yang dipercaya - diluncurkan dari wilayah yang dikuasai pemberontak di timur Ukraina.

Pesawat Boeing 777 itu jatuh pada Kamis (17/07) ketika bertolak dari Amsterdam menuju Kuala Lumpur, menewaskan semua 298 orang di dalamnya.

Angka terbaru yang dirilis oleh Malaysia Airlines menunjukkan, pesawat membawa 189 warga negara Belanda, 27 warga Australia, 44 warga Malaysia (termasuk 15 kru), 12 orang Indonesia dan 10 warga Inggris, serta sejumlah negara lain.

Berita terkait