Maraknya pelacakan satelit atas kapal

Fugro Equator Hak atas foto BBC World Service
Image caption Kapal Fugro Equator memiliki peralatan canggih untuk memetakan dasat laut.

Lintasan yang terekam dalam peta di atas adalah pergerakan dari sebuah kapal survei yang bolak-balik di jalur tertentu.

Peta itu berasal dari Fugro Equator, salah satu kapal yang membuat rincian peta di dasar laut di Australia barat sebagai bagian dari pencarian puing-puing pesawat Malaysia Airlines MH370 yang hilang.

Fugro Equator, perusahaan Belanda, bersama dengan kapal Angkatan Laut Cina, Zhu Kezhen -yang bekerja untuk kawasan lebih jauh di selatan- mengumpulkan data kedalaman di wilayah dengan cakupan 60.000 km2.

Begitu data diserahkan kepada pihak berwenang Australia, maka pencarian MH370 akan memasuki babak baru dengan menggunakan serangkaian kapal riset bawah laut dan tekonologi pencarian lainnya untuk laut dalam.

Gambar petanya diambil oleh exactEarth, salah satu pemasok informasi pelacakan kapal dari udara yang belakangan ini semakin banyak.

ExactEarth -anak perusahaan pembuat komponen satelit Kanada, ComDev- memiliki satu gugus kecil sensor di orbit yang bisa mendeteksi signal-signal Sistem Identifikasi Otomatis, AIS, yang dipancarkan kapal-kapal.

Semua kapal berbobot di atas 300 ton -dan semua kapal penumpang, terlepas dari berapa pun ukurannya- diharuskan membawa transponder yang mengeluarkan data, yang bukan hanya posisi tapi juga arahnya, kecepatan, serta informasi tentang jenis kapal, muatan, dan tujuan akhir.

AIS pada dasarnya dibuat sebagai sistem keselamatan, yang bisa digunakan badan kelautan maupun operator kapal untuk mengetahui apa yang dilakukan di perairan setempat.

Namun lengkungan bumi membuat jaringan radio teresterial hanya bisa bekerja dalam jarak 75km dari pantai, yang berarti dibutuhkan pengamatan satelit guna mengikuti kapal-kapal di samudra luas.

Hak atas foto Reuters
Image caption Dengan satelit AIS, kapal seperti Fugro Equator bisa dilacak di manaoun di lautan.

Datanya bisa digunakan untuk banyak keperluan, antara lain mengoptimalkan rute pelayaran, menegakkan peraturan perikanan, melacak polusi, dan juga mengatasi pembajakan maupun penyelundupan.

ExactEarth merupakan salah satu perusahaan yang memanfaatkan pasar baru.

Pekan ini di Pameran Udara Internasional Farnborough, Inggris, perusahaan itu menandatangani kesepakatan untuk memperdagangkan teknologi deteksi baru yang dikembangkan dalam proyek teknologi Badan Ruang Angkasa Eropa.

Teknologi itu akan dipasang di dua satelit yang akan diproduksi oleh LuxSpace di Luksemburg.

"Banyak tantangan dengan satelit AIS karena signal-signal tidak pernah diperkirakan untuk diterima dari udara," kata Peter Mabson, Presiden exactEarth.

"Yang terbesar adalah satelit akan menerima transmisi dari amat banyak kapal -sampai ribuan kapal- secara bersamaan. Jadi tantangan besarnya adalah memproses signal sehingga bisa membuat semua informasi itu bermakna. Dari sudut pandang exactEarth, kami sudah mempatenkan cara untuk melakukannya."

Pasar yang berkembang

Kontrak exactEarth ditandatangani hanya sehari setelah Orbcomm -saingan exactEarth dari Amerika Serikat- menempatkan enam satelit baru AIS, dan sepekan setelah roket Soyuz memuat plaform AIS untuk pembuat satelit patungan Rusia dan Jerman, Dauria Aerospace, serta untuk badan antariksa Norwegia.

Platform Norwegia, AISSat-2, merupakan lanjutan dari pesawat ruang angkasa yang berhasil dari negara itu yang diluncurkan tahun 2010.

Direktur Jenderal badan antariksa Norwegia, Bo Andersen, mengatakan informasi AIS, sebagian berasal dari AISSat-1, membantu penegakan aturan perikanan yang amat berhasil karena sejauh ini sepanjang tahun tidak ditemukan lagi kegiatan gelap perikanan.

"Norwegia memiliki lautan yang terbesar dibanding negara lain di Eropa," jelasnya.

Hak atas foto BBC World Service
Image caption Fugro Equator baru-baru ini kembali untuk operasi pemetaan setelah merapat beberapa waktu di pelabuhan.

Dan mereka akan meluncurkan AISSat-3 dalam waktu setahun mendatang untuk melengkapi pengamatan.

Dunia penerbangan juga memiliki kesadaran atas sistem yang dalam banyak hal mirip dengan AIS.

Disebut Automatic Dependent Surveillance-Broadcast, ADS-B, sitem ini akan memberikan identifikasi dan informasi pelacakan melalui jaringan radio darat dan satelit.

Namun dalam kasus MH370, transponder ADS-B di pesawat Malaysia Airlines itu entah dimatikan atau tidak berfungsi.

Berita terkait