Teror Xinjiang, Cina tuduh militan Uighur

  • 3 Agustus 2014
Hak atas foto BBC World Service
Image caption Pasukan militer Cina melakukan patroli di depan masjid Kashgar, Xinjiang.

Media resmi Cina mengatakan 37 orang warga sipil di Provinsi Xinjiang tewas dibunuh oleh kelompok militan etnis Uighur, pekan lalu.

Insiden kekerasan ini terjadi pada 28 Juli lalu, tetapi ini adalah yang pertama kali korban tewas dilaporkan oleh oleh kantor berita Xinhua.

Xinhua mengatakan, 215 orang penyerang bersenjatakan pisau dan kapak telah ditangkap setelah mereka menyerbu sebuah kantor polisi dan kantor-kantor pemerintah.

Tapi kelompok hak asasi Uighur mengatakan, polisi telah melepaskan tembakan ke arah orang-orang Muslim yang melakukan protes saat bulan Ramadhan lalu.

Pada saat itu, Xinhua melaporkan kejadian di kota Elixku dan Huangdi sebagai "serangan teror" dan mengatakan polisi telah menembak mati para penyerang.

Dikatakan 30 unit kendaraan milik polisi telah dirusak dan "puluhan" orang warga sipil Uighur dan warga Han Cina tewas atau terluka.

"Ini adalah insiden serius yang memiliki hubungan dengan organisasi teroris dalam negeri dan luar negeri. Mereka terorganisasi, terencana," demikian pernyataan pemerintah Xinjiang, yang diunggah di situs resminya, Minggu (03/08).

Membantah tuduhan

Kelompok aktivis Uighur yang berbasis di Amerika Serikat, Uyghur American Association (UAA), mengatakan, berdasarkan sumber-sumber mereka di wilayah itu, warga sipil Uighur ditembak aparat Cina saat mereka melakukan aksi protes.

Hak atas foto BBC World Service
Image caption Peningkatan operasi keamanan di Xinjiang dilakukan Cina atas tuntutan pemisahan diri warga Uighur.
Hak atas foto BBC World Service
Image caption Aktivis Uighur di AS mengklaim, aparat keamanan Cina memberangus segala kritik mereka.

UAA mengatakan, protes itu dilakukan terhadap ulah "pasukan keamanan China yang bertindak di luar aspek hukum" selama Ramadhan.

Sejauh ini belum ada pihak independen yang bisa dikonfirmasi terhadap klaim kekerasan dua pihak ini.

Ketegangan antara warga Uighur dengan warga imigran Han Cina tumbuh dalam beberapa tahun terakhir. Ini terjadi antara lain dilatari penentangan warga Uighur terhadap kehadiran kekuasaan Cina di Xinjiang.

Cina mengatakan, peningkatan kekerasan di Xinjiang tidak terlepas dari tuntutan pemisahan diri dari kelompok Uighur. Pihak berwenang Cina menjawabnya dengan meningkatkan operasi keamanan di wilayah tersebut.

Rabu lalu, imam masjid di kota Kashgar di Xinjiang, tewas setelah dilaporkan ditikam setelah sholat subuh.

Jume Tahir, 74, telah ditunjuk oleh Partai Komunis Cina sebagai imam di masjid Id Kah yang sudah berusia sekitar 600 tahun.

Beberapa orang mengatakan dia tidak disenangi oleh sejumlah warga Uighur karena mendukung kebijakan pemerintah, yang kadang disampaikan juga di dalam khotbahnya.

Berita terkait