Irak terancam krisis baru terkait status PM

  • 11 Agustus 2014
Massa PM Nuri al Maliki berunjuk rasa menyatakan dukungan.

Irak terancam jatuh dalam krisis politik baru menyusul putusan Mahkamah Agung yang memenangkan PM Nouri al-Maliki dalam perselisihannya dengan presiden.

Mahkamah menyebutkan bahwa Nuri al-Maliki yang partainya mendapat kursi terbanyak di parlemen, bisa terus menjabat, dan Presiden Fuad Masum harus taat pada konstitusi untuk meminta PM Al-Maliki membentuk pemerintahan.

PM Al-Maliki memperkarakan presiden ke Mahkamah Agung, dengan dasar bahwa ia sengaja melampaui tenggat waktu penunjukkan perdana menteri demi tujuan politik. Sebelumnya al Maliki mengecam presiden yang tidak turut tangan tatkala parlemen tak mau menetapkan Nuri Al Maliki sebagai PM.

Nuri al Maliki mendapat tekanan untuk mundur, terkait meningkatnya gerakan militan Daulah Islamiyah di utara.

Para pengecamnya menyebut, Al-Maliki turut memicu krisis itu dengan kebijakan-kebijakannya yang sektarian. Kaum Suni, Kurdi, bahkan sesama Syiah, mendesaknya mundur.

Menteri Luar Negeri AS John Kerry menyerukan PM Al-Maliki untuk tidak meningkatkan ketegangan, dan memperingatkan semua pihak agar tidak menggunakan kekerasan.

Sebelumnya, AS mendesak Irak untuk membentuk pemerintah yang inklusif, dan mendukung posisi Presiden Fuad Masum.

Tentara berjaga menyusul npernyataan PM Maliki untuk memperkarakan presiden Masum.

Dalam pemilu bulan April lalu, blok Syiah pimpinan Nuri al-Maliki mendapat kursi terbanyak, namun parlemen tak mencapai kesepakatan untuk menetapkannya lagi sebagai perdana menteri.

Tentara dan milisi Syiah pro Al-Maliki bersiaga di jalanan Bagdad Minggu malam untuk unjuk kekuatan, namun tidak dilaporkan terjadinya insiden.

Sementara di Irak utara dilaporkan militan Daulah Islamiyah alias ISIS berhasil merebut kota Jalawla, sesudah pertempuran beberapa pekan dengan para pejuang Kurdi.

Hari Minggu, tentara Kurdi menyatakan telah merebut kembali kota Gwer dan Makhmur di provinsi Nineveh dari tangan militan DI, dengan dukungan serangan udara AS.

AS sudah melancarkan empat rangkaian serangan udara untuk menggempur militan di dekat Irbil, ibukota kawasan Kurdistan Irak.

Para pemimpin Kurdi sebelumnya meminta bantuan pada masyarakat internasional.

Berita terkait