Bekas mata-mata Rusia Litvinenko dibunuh pada percobaan ketiga

Hak atas foto Getty
Image caption Unsur radioaktif polonium-210 ditemukan dalam cangkir teh yang diminum Litvinenko.

Bekas mata-mata Rusia yang membelot ke Inggris, Alexander Litvinenko, amat mungkin dibunuh pada percobaan ketiga lantaran dua upaya sebelumnya gagal, menurut informasi yang didapat BBC.

Litvinenko, agen intelijen Rusia yang membelot ke Inggris dan bekerja untuk dinas intelijen MI6, meninggal dunia tiga pekan setelah bertemu dua agen rahasia Rusia di Hotel Millennium di pusat Kota London, November 2006.

Kepolisian Inggris mendapati unsur radioaktif polonium-210 di dalam cangkir teh yang diminumnya. Dua orang Rusia, Andrei Lugovoi dan Dmitry Kovtun, dijadikan tersangka dalam kasus tersebut. Namun, mereka menolak tudingan itu.

Peter Clarke, selaku mantan kepala Komando Anti-Teroris Kepolisian Metropolitan London, mengatakan kematian Litvinenko tidak wajar.

“Ada jejak forensik yang sangat kuat, yang mengindikasikan Litvinenko telah diserang. Namun, tentu saja, yang tidak wajar (dalam kematiannya) ialah keterlibatan radioaktif,” kata Clarke.

Enam tahun lebih setelah Litvinenko meninggal, sebuah sidang publik yang memaparkan penyebab kematian mendiang digelar di London pada Selasa (27/01).

Istri Litvinenko, Marina, mengaku berharap sidang yang dipimpin hakim senior Sir Robert Owen itu akan menyediakan jawaban akan kematian suaminya.

Marina menudin Kremlin berada di balik kematian suaminya, namun Rusia membantah terlibat.

Berita terkait