Australia pulangkan pencari suaka di Pulau Manus

manus Hak atas foto Reuters
Image caption Aktivis hak asasi manusia mengkritik kondisi di kamp Pulau Manus

Kebanyakan pencari suaka yang berada di pusat penahanan milik Australia di Papua Nugini (PNG) bukan merupakan pengungsi dan akan dipulangkan "dalam beberapa minggu", seperti dikatakan perdana menteri PNG.

Peter O'Neill mengatakan kepada jaringan ABC bahwa sejumlah tahanan di Pulau Manus merupakan migran ekonomi.

Seorang aktivis membantah pernyataan tersebut dengan mengatakan bahwa sebagian besar klaim suka para tahanan bahkan belum diproses.

Para tahanan di pusat tersebut memprotes kebijakan Australia.

Pada puncak protes bulan ini, sekitar 700 dari 1.000 penghuni pusat tersebut dilaporkan mogok makan. Banyak dari mereka juga dikatakan telah melakukan tindakan membahayakan diri, seperti menelan silet dan bahan kimia.

Aktifitas protes berkurang setelah aparat keamanan memasuki bagian yang dibarikade dan memindahkan beberapa tahanan - yang diduga menjadi “pemimpin” protes-protes tersebut - ke tempat yang terpisah.

Kebijakan untuk menahan pencari suaka pada lokasi lepas pantai - dimaksudkan sebagai pencegah - telah dikritik oleh kelompok hak asasi.

Laporan dari Pulau Manus sulit dipastikan. Media tidak diperbolehkan disana dan pernyataan bertentangan sering dilontarkan oleh pejabat setempat serta pihak yang mendukung para pengungsi, sehingga tidak dapat dikonfirmasi secara independen.

Australia dan suaka

  • Pencari suaka - terutama dari Afghanistan, Sri Lanka, Irak dan Iran – datang ke Pulau Christmas di Australia dengan kapal reyot dari Indonesia
  • Jumlah kapal meningkat tajam pada tahun 2012 dan awal tahun 2013, dan puluhan orang meninggal dalam perjalanan
  • Setiap orang yang tiba langsung ditahan. Mereka diproses di kamp-kamp di Christmas Island, Nauru dan Papua Nugini. Mereka yang diakui sebagai pengungsi akan ditempatkan di PNG atau Kamboja, bukan Australia
  • Diyakini bahwa pemerintah setempat membawa perahu-perahu kembali ke Indonesia. Mereka juga mengembalikan pencari suaka yang ditemukan di laut kepada Sri Lanka.
  • Kelompok-kelompok HAM dan PBB telah menyuarakan keprihatinan mereka mengenai kebijakan ini.

Berita terkait