Korban akibat konflik global mencapai 167.000 jiwa

Afghanistan Hak atas foto Reuters
Image caption Korban jiwa akibat konflik meningkat besar di Afghanistan.

Jumlah korban yang tewas akibat konflik global sepanjang tahun lalu diperkirakan mencapai 167.000 jiwa, menurut laporan tahunan Lembaga Internasional untuk Studi Strategis (IISS).

Sekitar sepertiga dari korban yang tewas itu terjadi di Suriah, walau jumlah kematian di Suriah menurun menjadi 55.000 jiwa.

Jika dibandingkan dengan tahun 2014 maka jumlah itu menurun walau ada peningkatan besar di Afghanistan, yang tahun lalu mencatat jumlah kematian akibat perang sebesar 15.000, dari 3.500 jiwa.

Hak atas foto Reuters
Image caption Sepertiga korban jiwa jatuh akibat konflik Suriah.

Laporan berjudul Survei Konflik Bersenjata itu berpendapat peningkatan korban di Afghanistan antara lain disebabkan oleh mundurnya pasukan NATO, makin maraknya serangan Taliban, dan penggunaan senjata api tanpa pandang bulu oleh pasukan pemerintah.

Kenaikan juga terjadi di Amerika Latin -tempat sekitar 21% dari kematian global- dengan sebagian besar korban jatuh di Meksiko dan tiga negara Amerika Tengah, yaitu Honduras, Guatemala, dan El Salvador.

Hak atas foto Reuters
Image caption Konflik di Yaman melibatkan pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi.

Total jumlah kematian di kawasan itu meningkat menjadi 34.000 dari 30.000 pada tahun 2014.

Dalam pernyataannya Dirjen IISS, Dr John Chipman, menyebutkan bahwa salah satu ciri konflik sepanjang tahun 2015 adalah serangan balik dari pemerintah di konfik-konflik besar di dunia ntuk merebut kembali wilayah namun tetap menghadapi perlawanan.

"Sering hak tersebut dicapai dengan bantuan dari sekutu asing," katanya dengan merujuk intervensi Rusia di Suriah, peran pasukan Iran di Irak, dan serangan pasukan Persatuan Afrika di Nigeria dan Somalia.

Sementara itu jumlah pengungsi akibat konflik di berbagai kawasan dunia meningat, dari 43 juta jiwa pada tahun 2014 menjadi -hingga pertengahan 2015 saja- 46 juta jiwa.

Berita terkait