Pelaku penyerangan kafe di Bangladesh dari kalangan elite

bangladesh suspects Hak atas foto AP
Image caption 20 orang sandera tewas dalam serangan kafe di Dhaka, Bangladesh, Jumat lalu

Polisi Bangladesh masih melanjutkan penyelidikan terhadap serangan brutal di sebuah kafe di Dhaka, Bangladesh, Jumat lalu

Banyak yang kaget dengan temuan polisi yang menyatakan kebanyakan para tersangka berasal dari kalangan elite.

Termasuk di antaranya adalah putra seorang politikus, bersama lulusan sekolah dan universitas negeri terkemuka.

Sebanyak 20 orang sandera, dua polisi dan enam tersangka tewas dalam serangan tersebut. Seorang tersangka berhasil ditangkap.

Kelompok militan yang menyebut dirinya Negara Islam mengklaim bertanggungjawab atas serangan tersebut, tetapi pemerintah Bangladesh menyangkalnya.

Hilang sejak Desember 2015

Seembilan warga Italia, tujuh warga Jepang, satu warga Amerika Serikat dan satu warga India tewas dalam pengepungan selama 12 jam di kafe Holey Artisan di area Gulshan. Sementara seorang warga Italia masih belum ditemukan.

Hak atas foto EPA
Image caption Jasad warga India, Tarishi Jain yang berusia 19 tahun, dibawa untuk dikremasi

Menteri Informasi Bangladesh, Hasanul Haq Inu dalam wawancara dengan TV India, NDTV, mengatakan “mayoritas anak-anak yang menyerang restoran itu berasal dari institusi yang sangat baik.”

“Sebagian belajar di sekolah yang bereputasi. Keluarga mereka cukup berada."

Salah seorang tersangka adalah Rohan Imtiaz, putra dari politikus partai berkuasa di Bangladesh, Imtiaz Khan

Hak atas foto AFP
Image caption Upacara pemakaman untuk para korban serangan kafe di Bangladesh Jumat lalu

Dia dilaporkan hilang oleh orang tuanya pada Desember tahun lalu. Kedua orang tuanya kemudian mengenali parasnya dari foto para tersangka yang disebar di media lokal.

“Saya kaget, terngaga”

Ayah salah seorang terduga mengatakan kepada BBC bahwa dia kaget saat mengetahui anaknya adalah salah satu penyerang.

"Saya kaget mengetahuinya,” kata Imtiaz Khan, Ketua wilayah Dhaka partai Awami League dan Wakil sekjen Komite Olimpiade Bangladesh.

"Putra saya kerap sholat lima kali sehari semenjak kanak-kanak. Ada mesjid berjarak hanya delapan meter dari rumah kami. Dia mulai pergi bersembahyang dengan kakeknya. Namun kami tak pernah membayangkan ini. Tidak ada apa pun di rumah, buku atau apapun yang mengindikasikan dia mengarah kesana.”

Hak atas foto AP
Image caption Para penduduk juga ikut meletakkan bunga duka di upacara pemakaman para korban serangan

“Perasaan kaget dan kejadian yang mendadak ini membuat saya hanya bisa terdiam. Saya sangat malu dan menyesal.”

Rohan menghilang dari rumah keluarga Desember lalu. “Ketika saya mencari anak saya, saya menemukan banyak anak laki-laki lain yang menghilang – anak-anak terpelajar dari keluarga terpelajar, anak dari kalangan profesional, pejabat pemerintah. Saya sering berbagi kesedihan saya dengan mereka,” kata Imtiaz Khan.

Tersangka tewas lainnya, Nibras Islam, dilaporkan belajar di institusi bergengsi Australia, Universitas Monash di Kuala Lumpur, Malaysia, dimana biaya sekolah untuk program pendidikan sarjana sebesar $9,000 atau sekitar Rp 120 juta.

Propaganda ISIS

Seorang murid di sana berkata kepada Kantor berita Reuters bahwa Nibras Islam selama bersekolah terlihat normal dan suka mengambil foto dirinya sendiri. Dia lulus tahun lalu dan aktivitas sosial medianya juga berhenti.

Dia pernah mengikuti akun Twitter milik seorang propaganda kelompok yang menyebut dirinya Negara Islam, seperti dilaporkan Kantor berita Reuters.

Tersangka lainnya, Andaleeb Ahmed, yang juga pernah kuliah di Monash, tinggal di Malaysia sejak 2012 hingga 2015 dan kemudian pindah ke Istanbul.

Berita di Facebook dan sumber-sumber lain melaporkan ada sejumlah tersangka lainnya, seperti Meer Saameh Mubasheer, Khairul Islam Payel dan Raiyan Minhaj.

Dua dari keenam tersangka, Rohan Imtiaz dan Meer Saameh Mubasheer, bersekolah di sekolah negeri terkemuka Scholastica di Dhaka.

Dicuci otak

Ayah Meer Saameh Mubasheer berkata ke media lokal dia kuatir anaknya telah dicuci otaknya. “Saya merasa dia di bawah mantera seseorang. Kami orang tua yang baik namun mereka mengambilnya dari rumah kami,” kata Mir Hayat Kabir.

Para analis berkata latar belakang para tersangka dapat membuat mereka berbaur dengan mudah di kalangan diplomat kelas atas.

Mereka juga berkata sebelumnya orang-orang hanya mempercayai kaum jihadis berasal dari kalangan kurang terpelajar, yang menjadi radikal di institusi sejenis madrasah. Hanya tersangka Khairul Islam yang berasal dari kalangan tak terpandang.

Menteri Dalam Negeri Asaduzzaman Khan mengatakan kepada Kantor berita Agence France-Presse, AFP bahwa bergabung dengan kelompok yang menyebut dirinya Negara Islam gadungan membuat orang terlihat ‘bergaya’.

Image caption Holey Artisan Bakery biasa dikunjungi pekerja diplomatik dan kalangan menengah atas

Belum ada yang meminta jasad tersangka dan polisi juga belum menyatakan identitas mereka.

Nama-nama yang diberikan polisi - Akash, Badhon, Bikash, Don and Ripon – bisa jadi nama samaran yang dibuat para penyerang untuk menutupi identitas mereka.

Organisasi militan terlarang

Pejabat Bangladesh mengatakan anak-anak itu tergabung dalam kelompok militan lokal yang dilarang, Jamaeytul Mujahdeen Bangladesh (JMB), namun otoritas penegak humu negara itu sedang menelusuri keterkaitannya dengan kelompok Negara Islam.

Sementara itu seorang penyintas, Gianni Boschetti, mengungkapkan kisahnya meninggalkan kafe untuk menerima panggilan telepon yang menyelamatkan hidupnya – namun dia kehilangan istrinya, Claudia Maria D'Antona.

"Terakhir kali saya mendengar suara istri saya ketika dia memanggil saya dari dalam kafe,” kata Gianni Boschetti kepada La Repubblica.

Dia bersembunyi di kebun kafe selama berjam-jam. “Saya melihat jasad korban-korban dalam kondisi yang sangat buruk, ada yang dipukuli dan dihantam senjata tajam, namun istri saya tidak. Mungkin dia tidak menderita,” dia berkata.

Seorang saksi mata berkata para sandera disiksa karena mereka tak dapat membaca Alquran.

Berita terkait